Mengulang lagi pertanyaanmu tentang apa yang kuinginkan. Kamu tahu... yang aku inginkan adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi dan tak akan juga bisa kamu kabulkan. Memutar waktu ke masa lalu, mengulang semua dari awal. Bisakah kamu lakukan itu untukku? Bisakah kamu berikan waktu padaku?
Jika kamu bertanya mengapa, jawabannya sederhana, karena aku ingin bersamamu di situasi yang berbeda dengan saat ini. Aku ingin mencintaimu dengan bebas sebebas burung yang terbang kemana ia mau, sebebas angin bertiup kemana ia ingin bertiup. Aku ingin menyayangimu dengan sempurna, tanpa harus sembunyi. Aku ingin merindukanmu tanpa harus merasa bersalah. Dan aku ingin kau menjadi tempat terakhir ku sandarkan lelahku tanpa harus berbagi.
Kemudian kamu kembali bertanya, "Bagaimana jika aku bisa memutar waktu dan mengembalikannya ke detik pertama saat kita bertemu, apa kamu yakin semua akan berbeda?"
Detik berlalu beberapa saat sebelum akhirnya bisa kutemukan lagi suaraku. "Aku akan memastikan semuanya akan berbeda. Aku akan memastikan kita akan bertemu lalu saling mengenal dan perasaan yang kita miliki saat ini pun akan tetap ada."
Kamu hanya tersenyum mendengar jawabanku. Entah apa yang ada di pikiranmu saat itu. Hening sejenak. Lalu terdengar helaan nafasmu, pelan, namun tetap dapat kudengar sebelum akhirnya kau berkata, "Jika dapat ku putar waktu, tak perlu kamu minta pun sudah akan ku lakukan. Tapi kamu benar, aku tak bisa memberimu waktu. Aku tak sanggup memutar waktu. Yang kita miliki hanya saat ini. Dan kamu tahu apa yang kuinginkan saat ini?"
Kembali hening, sepertinya kamu menunggu jawabanku meskipun kamu tahu kamu sebenarnya tidak memerlukan jawaban itu. Aku hanya terpekur memandang ujung jari-jari kakiku. Masih juga hening. Bisa kurasakan tatapan matamu menusuk pertahanan air mataku. Aku menggeleng lemah.
"Yang sungguh kuinginkan saat ini hanya menghabiskan malam bersamamu. Bukan untuk melepas nafsu. Hanya untuk memelukmu. Membiarkanmu rebah di dadaku tuk rasakan degub jantungku. Dan menghabiskan malam dengan saling bertukar cerita. Bertukar cerita tentang apa pun itu hingga kau lelah dan tertidur. Dan aku sungguh ingin melihatmu tertidur dengan damai. Dengan senyum di wajahmu."
Hening lagi beberapa saat. Hanya sedikit isak tertahan yang terdengar. Aku menangis mendengar inginmu. Aku menangis karena aku bahagia kamu ingin begitu. Aku menangis karena aku menyadari keinginan kita sama untuk saat ini. Aku menangis karena tak mudah wujudkan itu. Kita hanya bisa begini. Seperti saat ini. Bersama dalam jarak. Sembunyi dari waktu.
Lalu tiba-tiba kamu merengkuh bahuku dan aku mendengarmu berkata, "Jangan menangis... tak ada yang perlu ditangisi. Aku hanya ingin kamu tahu aku ada. Aku ingin kamu tahu aku tidak berpura-pura. Aku miliki sayang ini. Aku juga punya cinta ini. Dan itu semua nyata untukmu dengan segala keterbatasan yang kita miliki. Aku hanya ingin meyakinkanmu."
Aku balikkan badanku dan menghambur ke pelukannya. Aku menangis bahagia. Ini adalah pertama kalinya kamu mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang selama ini selalu ku nantikan. Kata-kata yang selama ini hanya kamu ucapkan dengan ringan padanya, bukan untukku.
Aku memelukmu erat. Sungguh tak ingin kulepaskan. Kamu mengelus punggungku pelan. Kehangatan perlahan menjalar merasuki rongga-rongga hatiku. Aku sudah lebih tenang sekarang.
"Kamu tahu, aku senang akhirnya kamu ucapkan kata itu. Itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini. Meski nanti langkahku di sampingmu tak berjejak, aku akan selalu ada untukmu. Meski waktu yang kita miliki hanya saat ini, aku tidak akan menyesali." Akhirnya kutemukan juga suaraku.
Perlahan kau melepas pelukanmu dan mengangkat wajahku untuk kemudian menatap lembut mataku. " Aku bersyukur atas waktu yang kita lewati bersama. Tak ada sedetikpun yang aku sesali."
Waktu seperti terhenti saat itu. Atau mungkin lebih tepatnya inginku hentikan. Biarlah semuanya berhenti di sini. Menyisakan sebuah tanya kapan keinginan itu bisa terwujud. Satu keinginan sederhana untuk bisa bersama. Untuk bisa merasakan satu kebersamaan meski hanya semalam saja. Dan menemukan satu jawaban atas pertanyaanku yang lain. KAMU MENCINTAIKU. Saat ini itu sudah lebih dari cukup. Dan aku berharap waktu kan berhenti di sini saja.
Jika kamu bertanya mengapa, jawabannya sederhana, karena aku ingin bersamamu di situasi yang berbeda dengan saat ini. Aku ingin mencintaimu dengan bebas sebebas burung yang terbang kemana ia mau, sebebas angin bertiup kemana ia ingin bertiup. Aku ingin menyayangimu dengan sempurna, tanpa harus sembunyi. Aku ingin merindukanmu tanpa harus merasa bersalah. Dan aku ingin kau menjadi tempat terakhir ku sandarkan lelahku tanpa harus berbagi.
Kemudian kamu kembali bertanya, "Bagaimana jika aku bisa memutar waktu dan mengembalikannya ke detik pertama saat kita bertemu, apa kamu yakin semua akan berbeda?"
Detik berlalu beberapa saat sebelum akhirnya bisa kutemukan lagi suaraku. "Aku akan memastikan semuanya akan berbeda. Aku akan memastikan kita akan bertemu lalu saling mengenal dan perasaan yang kita miliki saat ini pun akan tetap ada."
Kamu hanya tersenyum mendengar jawabanku. Entah apa yang ada di pikiranmu saat itu. Hening sejenak. Lalu terdengar helaan nafasmu, pelan, namun tetap dapat kudengar sebelum akhirnya kau berkata, "Jika dapat ku putar waktu, tak perlu kamu minta pun sudah akan ku lakukan. Tapi kamu benar, aku tak bisa memberimu waktu. Aku tak sanggup memutar waktu. Yang kita miliki hanya saat ini. Dan kamu tahu apa yang kuinginkan saat ini?"
Kembali hening, sepertinya kamu menunggu jawabanku meskipun kamu tahu kamu sebenarnya tidak memerlukan jawaban itu. Aku hanya terpekur memandang ujung jari-jari kakiku. Masih juga hening. Bisa kurasakan tatapan matamu menusuk pertahanan air mataku. Aku menggeleng lemah.
"Yang sungguh kuinginkan saat ini hanya menghabiskan malam bersamamu. Bukan untuk melepas nafsu. Hanya untuk memelukmu. Membiarkanmu rebah di dadaku tuk rasakan degub jantungku. Dan menghabiskan malam dengan saling bertukar cerita. Bertukar cerita tentang apa pun itu hingga kau lelah dan tertidur. Dan aku sungguh ingin melihatmu tertidur dengan damai. Dengan senyum di wajahmu."
Hening lagi beberapa saat. Hanya sedikit isak tertahan yang terdengar. Aku menangis mendengar inginmu. Aku menangis karena aku bahagia kamu ingin begitu. Aku menangis karena aku menyadari keinginan kita sama untuk saat ini. Aku menangis karena tak mudah wujudkan itu. Kita hanya bisa begini. Seperti saat ini. Bersama dalam jarak. Sembunyi dari waktu.
Lalu tiba-tiba kamu merengkuh bahuku dan aku mendengarmu berkata, "Jangan menangis... tak ada yang perlu ditangisi. Aku hanya ingin kamu tahu aku ada. Aku ingin kamu tahu aku tidak berpura-pura. Aku miliki sayang ini. Aku juga punya cinta ini. Dan itu semua nyata untukmu dengan segala keterbatasan yang kita miliki. Aku hanya ingin meyakinkanmu."
Aku balikkan badanku dan menghambur ke pelukannya. Aku menangis bahagia. Ini adalah pertama kalinya kamu mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang selama ini selalu ku nantikan. Kata-kata yang selama ini hanya kamu ucapkan dengan ringan padanya, bukan untukku.
Aku memelukmu erat. Sungguh tak ingin kulepaskan. Kamu mengelus punggungku pelan. Kehangatan perlahan menjalar merasuki rongga-rongga hatiku. Aku sudah lebih tenang sekarang.
"Kamu tahu, aku senang akhirnya kamu ucapkan kata itu. Itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini. Meski nanti langkahku di sampingmu tak berjejak, aku akan selalu ada untukmu. Meski waktu yang kita miliki hanya saat ini, aku tidak akan menyesali." Akhirnya kutemukan juga suaraku.
Perlahan kau melepas pelukanmu dan mengangkat wajahku untuk kemudian menatap lembut mataku. " Aku bersyukur atas waktu yang kita lewati bersama. Tak ada sedetikpun yang aku sesali."
Waktu seperti terhenti saat itu. Atau mungkin lebih tepatnya inginku hentikan. Biarlah semuanya berhenti di sini. Menyisakan sebuah tanya kapan keinginan itu bisa terwujud. Satu keinginan sederhana untuk bisa bersama. Untuk bisa merasakan satu kebersamaan meski hanya semalam saja. Dan menemukan satu jawaban atas pertanyaanku yang lain. KAMU MENCINTAIKU. Saat ini itu sudah lebih dari cukup. Dan aku berharap waktu kan berhenti di sini saja.
No comments:
Post a Comment