6.28.2009

menanti malam beranjak

detik berlalu lambat di otakku
malam seolah enggan terseret pagi
tak sabar kunanti esok menjelang
tuk temuimu dengan selaksa rindu
rindu yang kini hampiriku setiap detik
seluruh isi otakku hanya bayangmu
setiap kata yang terucap hanya namamu
semua penantianku hanya kamu
sepatah kata sayang darimu
tlah mengobati sedikit rindu ini
namun juga menambah asa tuk temuimu
aku ingin malam segera berlalu
agar dapat kupeluk erat dirimu
membelai dinding hatimu
tumpahkan semua rinduku dan
semua angan tentang kebersamaan
yang sering kali kita bagi
meski entah kan berwujud atau tidak
aku tak lagi perduli..
yang aku tau kini aku sungguh rindukanmu
ingin segera bertemu..
mencari tatap hangat matamu
tenggelam dalam senyum damaimu
aku sangat merindukanmu..

6.26.2009

labirin rindu


aku kini berada dalam labirin rindu diantara detik yang terseret waktu
dan malam yang rela terenggut pagi, dan apakah kau tau?
dalam labirin itu terdapat sebuah ruang, ruang mungil yang terkunci rapat
dan kunci itu ada di tanganmu.. sebuah kunci sederhana
yang mengantarmu pada sebuah cinta
tak perlu kau ketuk, tak perlu banyak kata
ia berbahasa dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti nurani
hanya dengan sebuah tatap tanpa kata ditambah lengkung senyum di sudut bibir
semua indah pada waktunya.. sekelumit keajaiban ciptakan magis
saat jemari kita terekat erat meski terkadang harus sembunyi
banyak batas yang telah memuai, tak ada lagi batas abstrak imagi
yang ku tau aku sayangimu dan untuk kesekian kalinya
aku jatuh cinta lagi padamu segila-gilanya hingga pupus batas gila
tak peduli lagi tepat atau tidak hanya kau yang berhak ada di sana
dalam ruang mungil labirin rinduku..

6.25.2009

Tak habis tanya

Entah harus bahagia atau malah sedih,
pantaskah jika aku tertawa ceria? Haruskah aku meraung dalam tangis?
Semua rasa ini indah pada waktunya, namun mengapa harus tercipta
jika akhirnya tak bisa termiliki?
Mengapa dua rasa yang terpaut harus terpisah karena aturan?
Mengapa ada jalinan benang tak kasat mata bernama keterikatan?
Rangkaian kata bernama janji yang tlah terucap bahkan tertulis..
Bolehkah menutup mata dan telinga dari semua yang kan mencaci?
Bisakah aku berteriak lantang menentang dunia?
Tuhan... aku pertanyakan padamu kini
Mengapa kau beri aku bayangan yang tak mungkin ku lepas
tapi juga tak mungkin kumiliki selamanya??
Seperti rasa ini sekarang..
kau biarkan aku mencinta tanpa bisa milikinya..
kau sungguh kejam...
Apa aku yang buta???



langitmu


aku ingin menjadi langit
yang senantiasa temanimu
saat kau bersinar terang
dan slalu naungimu

kala sinarmu meredup

menjadi tempatmu sembunyi
kala awan kelabu berarak

aku kan selalu ada

dan kau kan dengan mudah

temukanku
kapanpun kau butuh

aku kan slalu ada untukmu...

meminjam 3 puisi dari ksatria,puteri dan bintang jatuhnya-DEE

I.
Aku tak mengenalmu, kita bukan teman.

Namun aku tak ingin menyakitimu, demi Tuhan.
Apa yang kau miliki sekarang amatlah aku inginkan.
Dan untuk mengertinya tidaklah sulit.
Kami adalah jalinan satelit yang saling membelit.
Mengelilingi satu planet yang menarik kami laksana magnet.
Tak ada lagi tempat di orbit ini, bahkan untuk
bayangan kami sendiri.
Jadi, relakan kami untuk saling memiliki.

-- pada kenyataannya tak ada yang mau mengerti
dan tak ada yang rela kami bersama --

II.
Aku bosan diam.

Aku ingin berteriak lantang.
Menembus segenap celah dan semua lubang,
Merasuk ke ujung gendang telinga semua orang...
Aku mencintainya.

-- suaraku tercekat... hening tetap tak terusik
jangankan teriak, sepatah katapun tak terucap --

III.
Layakkah cinta hidup semu laksana hantu?

Yang melayang bagai bulu panah.
Aku ingin menjejak tanah.
Mengambang membuatku lelah.
Aku ingin memiliki.
Aku ingin diakui.
Aku ingin memilikimu.

-- hanya sanggup sebatas andai...
terlalu sulit tuk menjejak
mungkin kan slamanya mengambang --

mengutip dari SUPERNOVA-nya Dee

Ajarkan aku menjadi naif.
Senaif dirimu yang masih bisa tertawa.
Senaif kebahagiaan di alam kita berdua.
Karena setiap detik di kala kenyataan mulai bersinggungan.
Aku rasakan sakit yang nyaris tak tertahankan.
Atau ajarkan aku menjadi penipu,
Apabila ternyata kau merasakan sakit itu dalam tawamu.



--- dan setiap kali kenyataan mulai bersinggungan,
yang kuharap hanya waktu bisa merubah semuanya ---

gundah malam ini


ada takut yang menggantung
seperti mendung menghias langit
siap turunkan tetesan hujan
sayang air itu tlah lebih dulu menetes
dalam aba-abunya malam ini
namun bukan dari langit
ada saat yang terampas
dalam rentangan ruang dan waktu
dan kembali hanya bisa berandai
entah sampai kapan sanggup bertahan
berharap takut segera berlalu
tanpa harus merasa kehilangan..
waktu ternyata begitu berharga
setelah berlalu dalam detik..
dan waktu..
hanya itu yang kubutuhkan saat ini..

6.24.2009

cinta tanpa mata by BIP

Walau kau tak kumiliki
Seperti disaat ini
Tapi hatiku tak akan menyesali

Hingga aku pun tak mau
Lewati hari tanpamu
Walau tiada orang yg setuju

Cinta memang.. tanpa mata
Hebatnya cinta butakan siapa saja
Memang cinta.. tak perduli
Semuanya bisa

Bisa saja jatuh cinta

Slama kau memahami
Slama kau menikmati
Perbedaan takkan bisa halangi

Bersama dengan dirimu
Kurasa tetap bahagia
Walau lebih banyak pahitnya

Hanya padamu, hanya untukmu
Terlanjur sudah kuberikan hatiku
Hanya padamu, hanya untukmu
Terlanjur sudah kuserahkan
Smua cintaku..

6.23.2009

sebait inginku


beri aku waktu sekejap lagi saja
tuk rasakan indah dan perihnya cinta ini
biarkan aku di sini tuk sementara
agar dapat nikmati kisah tak berujung
dalam ketidakpastian waktu seperti ucapmu
berharap dapat milikimu tanpa harus terbagi
berandai tak terlambat tambatkan hati
meski nyata menampar pasti itu salah
raga ini nyatanya tlah termiliki
hatimu pun tak kosong tuk sepenuhnya kusinggahi
namun biarlah... izinkan tetap begini
meski hanya hingga kau temukan batasmu
biarkan aku tetap berjalan dalam dua dunia ini..
menjagamu semampu aku
mencintaimu sepenuh hati
... seperti saat ini

loving you


loving you is not a hard thing to do
you, with all your perfections
your gentle heart, your warmth smile

and those deep loving eyes
but keeping you here by my side

that is the hardest thing ever

not because you don't love me

it is the time and space

that separate us too long

far too long that makes it too late

but time and space are not to be blamed

this is just the way it is

one way or another...this is just it.

tak ada

tak ada yang pasti
tak ada yang benar
tidak juga yang salah
semua hanya terjadi
berjalan seiring waktu
hingga terbentuk kisah
terjalin indah dalam perih..

6.21.2009

bintangku

baru saja kutatap langit di luar sana
biru keemasan bertabur bintang
sayang malamku tetap abu
bintangku sembunyi entah di mana
mungkin di balik secangkir kopi
atau di antara kepulan asap
yang selalu ia hembuskan
sepertinya di balik bantal
di mana mimpinya berawal..
di mana pun..aku tetap di sini..
lelah dengan mimpiku..

akhir penantian

hari telah menjadi baru di detik pertama ia melangkah
namun tetap dia tak kunjung datang menyapa
agaknya masih rindu pada sang bintang
bercengkrama hingga lupa detik tlah berakhir
sudah saatnya sapa sang bulan yang menatap iri
menanti dengan cemburu berkecamuk
kian menyiksa seiring detik terus berdetak
namun tetap tak kunjung tersapa
mungkin sedikit terlupakan
setelah lelah melepas rindu
awal hari baru berakhir sudah
penantian itu kini berakhir luka
sisakan sebuah asa dalam fajar
yang kan segera menjelang..
smoga akan terdengar sapa
meski tidak malam ini..

6.20.2009

menanti malam beranjak


malam beranjak perlahan dalam keheningan
detik demi detik menanti pergantian hari
waktuku terbagi dan aku harus menunggu
biarkan langit bercengkrama dengan bintang
dan bulan hanya melihat dikejauhan
menatap iri setiap canda yang tercipta
berharap waktu segera berlalu
dan hari berganti pada titik perpindahan kala
saat itulah kudapati sebenar waktuku
kala langit menyapa sang bulan
tersenyum dengan hangatnya
tuk kemudian bercengkrama bersama..
dan menghapus semua resah saat menunggu
aku di sini menikmati setiap detik penantian
dan segala siksa akan gundah didalamnya
... aaah, malam terlalu lama bergulir
aku sudah terlalu merindu...

6.19.2009

cinta dalam kebersamaan

langkah demi langkah terurai
detik dan waktu terlalui bersama
semua indah dan nyata terjalin
dalam alam simulakrum
membaur antara nyata dan imagi
hingga terbentuk sebuah aspirasi
dalam bentuk pertalian rasa
yang perlahan mengikat
dan kian erat terpaut
sampai sadari sudah sulit tuk terlepas
hingga tak sisakan sedikit ruang pun
bahkan tuk udara yang menyelinap
dan bayangan kita sendiri
rasa itu terlalu kuat mengikat
itulah cinta yang tumbuh
... karena kebersamaan

6.18.2009

kau, aku, bukit ini dan cinta kita


kudapati lagi diriku berada di tengah kedamaian
di antara kabut yang perlahan turun menyapa alam

tak ada lagi yang dapat menahan langkah kita

tuk menjejak di antara perbukitan hijau yang terhampar

kita melangkah perlahan nikmati sapaan sang kabut

dengan lengan saling bertaut erat tanpa ragu

seolah bukit ini hanya milik kita berdua
seakan hanya inilah satu-satunya tempat kita

di tempat inilah kita tinggalkan jejak

ciptakan romansa indah dunia kita
hanya ada kau, aku, bukit ini

... dan cinta kita.

keheningan di surga kecil















kembali lagi ke surga kecil milik kita

masih tetap indah tak banyak berubah
hujan pun tetap iringi langkah kita
hanya saja mendung bergayut di wajahmu

jiwamu mengembara... tak di sini bersamaku
tak kutemukan bahagiamu dalam tatap itu

hanya ada amarah terpendam yang tersembunyi

sayang tak jua bisa kau sembunyikan dari aku

langit kali ini berpihak padamu

awan gelap berarak temani angkaramu

tak juga bisa ku buat kau tersenyum
aku hanya terdiam pandangi bukit tersaput kabut

entah mengapa kabut turun terlalu dekat
hingga menyapu wajahmu dan berpaut di sana

hilangkan senyum dan tawa serta tatap hangatmu
gemericik embun hujan yang perlahan menyapa

tak juga mampu basuh gundah dan kesalmu

harapku punah kali ini
luruh seiring hujan
yang tetesnya melebur
bersama tangis dalam hatiku

aku tak mampu menghiburmu.. tidak kali ini

aku hanya mampu terdiam di sini
temanimu dalam hening
... di surga kecil milik kita
hingga kau sadari aku ada dan kan selalu ada

detak cinta


mengapa cinta harus ada saat tak bisa miliki?
mengapa begitu sulit tuk hentikan detaknya?
setiap hembusan nafas.. setiap denyutan nadi
hanya menambah kuat detak iramanya di hati
meski berkali tersayat perihnya luka
saat harus tertelan kenyataan
tak sedikitpun detaknya melemah
kadang lelah siap tuk hentikannya
namun saat tlah meredup sedikit saja
detak itu kembali berderap kencang
seolah tak ingin mati
berontak...
... lalu kembali berdetak
tak jadi padam... kembali termaafkan
cinta...
mengapa kau berdetak di saat seperti ini?
mengapa tak sedikitpun bisa ku hentikan?
apa karena aku terlalu takut untuk sendiri?



jejak

perlahan namun pasti ada jejak tersembunyi
yang tercipta dan kelak kan slalu tersimpan
jejak yang kian perjelas imagi dalam nyata
Jejak yang kita ukir dalam sepenuh kesadaran
kesadaran akan anomali cinta yang kian mengakar
Hati kita tlah satu... cinta ini benar adanya
kita tlah saling melingkar terpaut jadi satu
layaknya sebuah gelang yang melingkar di lengan
cintamu melingkar utuh di hatiku
tak ada lagi celah keraguan berkecamuk didada...
tak peduli lagi tepat atau tidak..
aku mencintaimu dengan sepenuh hati
dalam jejak ini aku tau cintamu ada..

6.10.2009

EPISODE MALAM-MALAM DIANA

EPISODE I

“Ma, dia melamarku. Aku bingung, Ma. Dia sahabatku, dan kini dia mengajakku bertunangan. Sudah hampir 7 tahun kami bersahabat.” Diana menghela nafasnya sejenak. Matanya menerawang jauh seolah tengah menelisik langit malam yang kini tak berbintang.

“ Ma,” ia melanjutkan, “Aku takut. Aku tidak siap dengan sebuah keterikatan. Mama tahukan apa yang terjadi saat pernikahan Ira beberapa bulan yang lalu, dia meninggalkan aku, Ma. Dia bahkan mengatakan hal yang sangat menyakitkan. Dia, yang telah cukup lama menjadi kekasih sempurnaku, akhirnya menyakiti aku dengan untaian makinya. Saat itu aku bertekad untuk tidak menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin nanti, lima tahun ke depan. Terlebih setelah aku melihat kehidupan rumah tangga kakak-kakakku yang setiap hari selalu dihiasi dengan pertengkaran dan aku juga teringat kehidupan pernikahanmu yang berbalut kisah pilu. Aku semakin yakin aku tidak ingin segera menikah, kecuali aku benar-benar sudah mendapat orang yang sempurna yang tidak akan menyengsarakan kehidupan pernikahanku karena aku belum melihat indahnya sebuah pernikahan dalam kehidupan nyata."

Langit malam berhias kilatan petir yang sesekali menjadikannya terang. Diana masih juga bergelut dengan keraguannya. Rambut hitamnya dia biarkan terurai dan sesekali tersibak angin yang cukup membuatnya merasa perlu untuk merapatkan cardigans kesayangannya. Ia memejamkan matanya sejenak saat langit kembali menjadi gelap setelah kilatan cahaya petir memudar.

“Ma, apa yang harus aku lakukan? Aku bingung, Ma. Dia memang baik dan aku yakin saat ini dia memang sangat mencintaiku. Tapi sampai kapan cinta itu akan ada? Mereka semua juga begitu, sangat mencintai kekasihnya sampai memutuskan ingin segera menikah. Tapi apa yang terjadi saat mereka telah menikah? Sebulan sampai tiga bulan pertama mungkin masih terasa indah, selebihnya.. bagai neraka. Pertengkaran-pertengkaran kecil semakin membesar hingga perlahan mengikis rasa cinta mereka. Lalu?? Aku melihat bagaimana Anwar dan istrinya saling memaki setiap hari sebelum aku berangkat kerja, hanya karena hal sepele. Aku melihat bagaimana Ira yang tengah hamil muda menangis-nangis minta diantar cek kandungan ke dokter karena suami tercinta yang baru ia nikahi beberapa bulan itu menelantarkannya dan lebih memilih untuk hang out bersama teman-temannya. Akulah saksi hidup pernikahan kakak-kakak tersayangku.”

Malam kian larut, keheningan semakin menyeruak. Diana masih juga termenung sendiri di beranda kamarnya. Ia terdiam cukup lama hingga tetesan air mulai turun dari langit dan memaksanya masuk ke kamar tidurnya.

Satu bulan kemudian, di malam yang berbintang, Diana kembali membiarkan dirinya disapu semilir angin malam di beranda kamarnya. Ia tersenyum menyapa bintang. Senyumnya melengkung sempurna bak bulan sabit yang kini tengah menghiasi malam.

“Ma, aku sudah menerima lamarannya. Aku bahkan sudah bertunangan dengannya. Aku tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi aku tak sanggup ntuk menolaknya. Aku rasa dia sudah cukup sempurna untukku. Aku bahagia, Ma! Kami akan segera menikah.”

EPISODE II

Besok, hari besar itu tiba. Segala persiapan sudah sempurna. Tak ada satu detailpun yang terlupakan. Diana ingin semuanya berawal sempurna karena dengan begitu ia akan semakin yakin kehidupan pernikahannya nanti akan jadi sempurna tak bernoda. Dan malam ini adalah malam terakhir ia menikmati malam di beranda itu sendiri. Besok akan ada yang menemani malam-malamnya.

“Ma, ini malam terakhir aku sendiri. Aku ingin semua akan berjalan dengan baik. Aku tak mau menjadi seperti Ira dan Anwar. Aku tak ingin menjadi sepertimu,Ma. Maaf, bukan aku tak menghargaimu, Ma, tapi aku tak mau pahitnya pernikahan yang kau alami harus juga aku alami. Ma, restui pernikahanku dan doakan yang terbaik untukku.”

Beberapa bulan berlalu setelah acara pernikahan yang menurut Diana sangat sempurna. Sayang tidak begitu dengan pernikahannya. Dan ia kembali terduduk sendiri di beranda kamarnya. Matanya basah, hujan telah turun dari matanya menghiasi malam yang berbintang ini. Kali ini malam tidak berpihak padanya.

“Ma, aku terperangkap sekarang. Apa yang selama ini ku takutkan telah benar-benar terjadi. Aku kecewa, Ma. Cinta itu perlahan terkikis oleh ego kami. Tak mudah ternyata menerima dan memaafkan kesalahan yang dia buat, Ma. Ini sudah keberapa kalinya dia seperti ini. Aku tersakiti, Ma. Aku kira dia lain dari lelaki lainnya. Ternyata dia sama. Dia khianati aku dengan kemesraannya pada wanita lain. Aku sudah berusaha menerima sifatnya yang terkadang terlalu ramah pada wanita lain, tapi tidak untuk bermesraan dengan yang lain. Aku merasa terbuang dan tersia-sia. Aku sadar sekarang, ternyata Mama adalah seorang wanita yang sangat kuat. Entah apa aku bisa sekuat Mama yang harus berbagi suami dengan Bunda. Aku bahkan mungkin tak akan bisa sesabar bunda yang harus menerima kesendiriannya saat Papa meluangkan waktu untuk Mama dan kami anak kalian berdua, Ira, Anwar dan aku. Mama adalah Super Woman, yang tak sedikitpun pernah mengeluhkan tentang hal ini, Mama bahkan rela membagi kasih anak-anaknya dengan Bunda. Aku tak akan bisa seperti kalian berdua. Saat ini saja aku merasa duniaku sudah hancur. Aku ingin sendiri, Ma. Aku akan menutup hatiku sekarang. Sudah cukup semua rasa sakit ini. Aku akan mematikan semua rasaku. Cukup sampai di sini.”

Malam demi malam berganti. Beranda itu tampak selalu sunyi. Tak pernah lagi ada Diana di sana. Hanya sebuah bangku kosong dan semilir angin yang senantiasa menemani kekosongannya.

EPISODE III

Hari demi hari, bulan demi bulan mengantar ke pergantian tahun. Ini malam pertama di tahun yang baru. Bulan sabit bersinar ditemani bintang yang bertaburan di sekelilingnya. Diana baru saja membuka pintu kamarnya dan beranjak ke beranda yang sudah lama ia tinggalkan. Ia berdiri di sana dengan senyum. Matanya menerawang menembus sebuah bayang wajah yang kini hiasi hari-harinya.

“Ma, sudah lama rasa ini mati. Sudah lama kututup rapat hatiku, tapi entah mengapa ia sanggup mengetuknya. Mama tahu pernikahanku dengan Tian kini hanyalah sebuah status. Tak pernah lagi ada cinta di dalamnya. Kami menjalani kehidupan kami masing-masing. Tak pernah ada lagi kebersamaan. Aku sudah lama mati rasa. Tak ada lagi rindu, cinta bahkan benci. Tak pernah lagi ada getaran-getaran yang mampu membuat wajahku merona merah. Tapi hari ini, Ma.. Aku kembali merasakannya saat aku bertemu dia. Dia, mantan kekasih Mitha. Mama kenal Mitha kan? Mitha adalah adik yang tak pernah aku miliki. Mitha, yang memutuskan untuk pergi meningalkan kita semua termasuk dia, karena ingin membahagiakan orang tuanya. Dulu kita sering bercanda bersama, aku, Mitha dan dia. Setelah sekian lama, entah kenapa Tuhan mempertemukan kami lagi. Dia sudah banyak berubah, Ma. Lebih dewasa. Entah apa yang merasuki aku saat ini. Tapi aku tergetar saat dia ada di sisiku tadi, Ma. Kami memang sudah cukup lama bertukar cerita di dunia maya, hingga akhirnya tadi kami bertemu. Sungguh ada getar-getar aneh yang menjalar di seluruh pembuluh darahku saat ia menatapku. Aku salah tingkah. Terlebih saat ia memperlakukanku dengan sikap seorang gentlemen. Aku sunguh tak berdaya. Aku menikmati setiap detik bersamanya, aku menikmati setiap tatapan matanya.”

Diana bergerak mengikuti irama yang bersenandung dalam hatinya. Ia berputar-putar dengan mata terpejam. Ia menikmati semilir angin yang menerpa tubuh indahnya. Wajahnya bercahaya tertimpa sinar sang rembulan. Kebahagiaan terpancar nyata dalam setiap lekuk wajahnya.

“Ma, ku kira aku telah jatuh cinta!”

EPISODE IV

Malam ini langit menurunkan rintik gerimis. Diana berdiri di berandanya. Ia membiarkan tetesan gerimis menerpa wajahnya. Matanya terpejam, wajahnya menengadah menghadap langit. Ia nikmati setiap tetes air yang menyapu pori-porinya. Ada segurat senyum di sana.

“Ma, aku benar-benar telah jatuh cinta. Dia telah mengisi kekosongan hatiku. Dia temani hari-hari sepiku. Dia telah beri aku arti hidup. Aku selalu merasa nyaman saat dia ada di dekatku. Aku merasa telah menemukan separuh nafasku yang hilang pada dirinya. Aku merasa seperti menemukan separuh jiwaku. Kami saling melengkapi satu sama lain.”

Raut wajah Diana tiba-tiba berubah, tak ada lagi senyum, hanya ada sorot kesedihan dan kegundahan. Diana menghela nafas, membebaskan sebagian beban yang mulai menyesakkan hatinya. Gerimis telah berpindah ke matanya.

“Tapi, Ma, lagi-lagi aku mencintai orang yang tidak seharusnya aku cintai. Kami sungguh sudah sangat terlambat bertemu. Kami bertemu di saat yang salah. Aku yang terjebak dengan status pernikahanku, yang masih juga aku pertahankan hanya untuk menyelamatkan nama baik keluarga kita dan keluarganya, dan dia yang telah mendapatkan kebahagiaan dari seorang kekasih yang dia cintai. Tapi aku tak bisa menghindar dari semua rasa ini , Ma. Aku sungguh takut, Ma. Aku tak mau menjadi sepertimu.”

EPISODE V

Entah apa yang sedang terjadi di langit malam ini, tapi malam ini langit berwarna jingga. Tak ada angin yang berhembus. Sepi. Semua sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing, tapi tidak dengan Diana. Ia menikmati jingganya langit malam ini. Ia terduduk di bangku kecil itu, tapi ada yang berbeda kali ini, pandangannya kosong.

“Aku ingin Mama di sini. Aku ingin tahu apa mama akan memaklumi apa yang tengah terjadi dalam kehidupanku saat ini. Aku tahu Mama tak pernah ingin aku menjadi seperti Mama. Aku juga tak mau begitu, Ma, tapi terlambat.. Aku sudah menjadi seperti Mama. Aku mencintai lelaki lain saat aku masih terikat status pernikahan, dan aku juga mencintai orang yang telah memiliki seorang kekasih dan mereka saling mencintai. Tapi perasaan yang ada di antara kami tumbuh begitu saja seiring waktu, hingga akhirnya mengakar kuat dalam setiap aliran darah kami. Kami saling menyayangi. Dan baru kali ini aku belajar sekuat Mama dan sesabar Bunda, membiarkan orang yang aku cintai membagi waktu dengan kekasihnya yang lain. Terkadang terasa sakit, Ma, tapi selalu ada akhir yang indah saat kita kembali bertemu. Semua seolah terbayarkan. Mungkin inilah yang dulu Mama dan Bunda rasakan. Hmmm.. Ternyata sulit ya, Ma. Seperti malam ini, saat dia harus pergi menemui kekasihnya dan aku sama sekali tak bisa melarang. Aku tak sanggup membayangkan dia memeluknya, menatapnya seperti saat dia menatapku. Tapi aku harus membuang jauh-jauh bayang itu. Aku hanya harus menanti dia kembali.”

JIngga perlahan memudar dan langit kembali menjadi gelap. Diana menengadah menatap langit. Sedetik kemudia ia menghela nafas dan perlahan beranjak memasuki ruang kamarnya. Ia kembali menatap langit sejenak, matanya menerawang melalui pintu kaca kamarnya. Angannya melayang jauh ke sana, ke tempat dimana saat ini ada sepasang kekasih yang sedang melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu karena jarak memisahkan mereka. Diana kemudian tersadar dan menggelengkan kepalanya berharap dengan begitu semua bayang itu akan sirna, sebelum akhirnya menutup tirai pintu kamarnya. Beranda itu kembali sepi.

EPISODE VI

“Tian sudah kembali, Ma. Tapi tak banyak yang berubah. Dia tetap dingin. Dia bukan lagi sahabat yang aku kenal dulu. Dia bukan lagi kekasih yang aku tunggu dan dia bukan lagi seorang suami yang dulu mencintaiku dan selalu menyapaku hangat. Dia hanya seorang asing yang berstatuskan suamiku. Kebersamaan kami kini hanya dihabiskan dalam diam. Berkali ku coba membangun percakapan dengannya, tapi apa yang ku dapat? Hanya sebuah senyum kaku yang dipaksakan. Tak ada kata yang terucap. Jikapun akhirnya dia mengucap kata, maka pertengkaranlah yang akan menjadi penyelesaiannya.”

Malam ini hujan turun cukup deras. Aneh, sudah lama langit tak menangis karena memang seharusnya hujan tidak turun di musim kemarau seperti saat ini. Alam berbahasa, dia ikut menangis saat ada insan yang terluka. Seperti Diana, malam ini matanya terlihat sembab setelah hampir seharian ini dia menangis. Sesekali masih terlihat ia menahan isak. Tapi kali ini ada yang berbeda. Diana tidak lagi ada di beranda kamarnya, melainkan di sebuah bangku taman di tengah kota. Ia membiarkan tubuhnya basah terguyur hujan.

“Seperti yang baru saja terjadi, Ma, itu adalah pertengkaran terhebat yang pernah terjadi selama dua tahun ini. Tian bilang menikahiku adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Hatiku tersakiti, Ma. Selama ini, Tian yang selalu meninggalkan aku. Selama ini aku yang selalu tersakiti. Mama lihat sendiri kan? Ma.. aku sungguh tidak bahagia. Aku cape dengan semua ini. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya, Ma. Mungkin ini yang terbaik.”

Diana tiba-tiba meraih saku jaketnya dan mengeluarkan handphonenya. Jari jemarinya yang memucat karena dingin menekan keypad handphonenya perlahan. Sejenak ada ragu menghiasi wajahnya, tapi terlambat, sudah ada yang menjawab telfonnya di ujung sana.

“Kenapa, Yang? Lagi di mana? Tian mana?” Sebuah suara yang selalu Diana rindukan, yang selalu temani malam-malamnya saat Tian tak ada.

“Ndra, Diana berantem hebat sama Tian. Diana cape, Ndra. Andra di mana?” Suara Diana bergetar.

“Andra lagi di jalan, Yang, Niar minta Andra datang malam ini. Andra ga bisa tolak, Yang. Ayang di mana sekarang?” Andra terdengar cemas di ujung sana. Hening sejenak. “Yang??”

Air mata Diana sudah tak tertahankan lagi, tapi ia berusaha untuk tegar. Ia tak ingin Andra mendengar suara tangisnya. Dengan berat akhirnya Diana menjawab, “Iya, Ndra. Ya sudah, pergilah. I'll be alright. Just go and see her, temui Niar dengan senyuman. Salam Diana buat Niar. Take care ya, Love you.” Klik. Diana memutuskan sambungan telfonnya sebelum akhirnya mematikan handphonenya.

AKHIR EPISODE

Malam ini langit berwarna biru keemasan dihiasi bintang yang bertaburan dan bulan sabit yang tersenyum ramah menyapa bumi. Kedua lelaki itu berada di ruang yang berbeda, tapi kedua mata mereka tertuju di satu titik yang sama. Satu sosok yang tengah terbaring dan tidak juga menampakkan tanda-tanda kehidupan selain dari alat pacu jantung yang terpasang di tubuhnya. Diana terbaring hampir tiga minggu lamanya, berada di batas dua dunia. Enggan melepas kesadarannya namun tak sanggup tuk kembali hadapi hidup. Terjebak dalam dimensi ruang dan waktu.

Malam itu Diana berjalan tanpa arah, semua rasa terbentuk dalam kepingan-kepingan gambar yang kian lama kian menyesakkan hatinya. Sudah terlalu lama Diana memendam pedih, hingga tiba di satu titik ia tak lagi sanggup menampung semua luka dan kecewa. Ia terjatuh tak sadarkan diri dalam deras hujan di malam itu. Tak sadarkan diri hingga kini.

Tian terduduk di samping ranjang itu, memegang erat tangan istrinya. Hatinya berkecamuk. Segala sesal menghampirinya saat ini. Dan penyesalan terdalamnya adalah menyia-nyiakan orang yang pernah sangat berarti dan ternyata masih sangat berarti dalam hidupnya. Tian belum siap kehilangan Diana. Dan rasa takut kehilangan itu semakin menjadi saat ekor matanya menatap sesosok pria yang kini sedang berdiri di balik kaca ruangan tersebut, dengan raut kesedihan yang ia rasakan sama dengan rautnya kini. Tian paham semua itu, dan sesalnya semakin manjadi.

Andra hanya bisa terdiam menatap sosok Diana di kejauhan. Dia sungguh ingin berada disampingnya. Berjuta andai saling tumpang tindih di benaknya. Andai ia memilikinya lebih dulu, dan bukan pria itu. Andai ia tak pergi saat itu. Andai ia bisa menukar hidupnya dengan dia yang terbaring di sana. Andai... andai... dan andai... Bahkan di saat seperti ini pun ia tak bisa ada di sampingnya, memegang tangannya dan mendampinginya hingga ia tersadar. Andra hanya mampu termenung di situ, berharap Diana tahu ia ada dan menungguinya meski hanya di balik kaca.

Malam semakin larut. Kedua lelaki itu tetap terjaga. Meski dalam ruang yang berbeda, pikiran keduanya berada dalam dimensi yang sama. Dimensi tempat Diana kini berada.

6.08.2009

Firasat

langit terlalu terang untuk ku pandang
mentari bersinar terlalu terik menyilaukan
tak ada yang bisa ku nikmati saat ini
tidak saat kau tak ada di sini
tak ada senyummu dan tatap hangat
bahkan burung-burung yang menari di angkasa
tak sedikitpun memberi kabar tentangmu
kau seperti menghilang di telan bumi
tapi tak sedikitpun aku terkejut
firasat itu tlah ada sebelum kau pergi
entah bagaimana aku tau..
kau tak kan pulang secepat itu
mungkin nanti..
kau kan kembali hadir
saat sadari kau butuh aku..
aku kan tetap di sini..
bukan untuk menunggumu
hanya agar kau tau aku ada..


6.03.2009

mati rasa

aku mati rasa..
tak ada lagi rindu
tak ada lagi cinta
tak ada lagi benci
tak ada lagi rasa
aku mati rasa..
sudah lelah sekarang
telah lah cukup kini
biar semua berlalu
tanpa rasa..
karna rasa hanya ilusi
ilusi yang gurat luka..
tak nyata..