4.30.2010

cinta terakhir ( A song by Anang & Syahrini )

Jangan pergi tetaplah disini
Dengan aku berdua..
Bagai bulan bintang
Yang slalu mencinta
Setia berdua

Pasrahkan semua hatimu
Mencintaiku

Ini cinta terakhir yang ingin ku rajut
Hanya dengan kamu
Walau ini susah akan aku tempuh
Semua perjalanan cintaku

Jangan takut aku disini
Untukmu mencintaimu

Ini cinta terakhir yang ingin ku rajut
Hanya dengan dirimu
Walau ini susah akan aku tempuh
Semua perjalanan cintaku

Cinta ini cinta terakhir
Untuk kita

Cinta ini terakhir untukku
Terakhir untukku

4.29.2010

the best thing by mocca

I’ve got the best thing in the world
Coz’ I got you in my heart
And this screw little world
Let’s hold hand together
We can share forever
Maybe someday the sky will be colored with our love

I wake up in the morning
Feeling emptiness in my heart
This pain is just too real
I dream about you, with someone else
Please say that you love me
That we’ll never be apart

You have to promise
That you will be faithful
And there will be lots and lots of love
It is the thing that really matters in this world…


-- akhirnya kembali menemukan e-mail dari mu.. a nice song
I promise I'll be faithful coz u're my one n only luv ^_^

bertahanlah buat satu mimpi yang telah tercipta
u said easy come easy go.. semoga setelah semua kesulitan
yang harus kita hadapi, ikatan kita akan menjadi semakin kuat

mengapa selalu ada?

Ketenanganku kembali terusik tanpa sengaja. Instingku lagi-lagi menjadi nyata. Ingatkah kamu ketika aku berkata bahwa ia tak akan berhenti sampai di sini. Kala itu aku berujar pasti akan ada lagi hal yang membuatnya menghubungimu lagi, dan ternyata aku benar.

Aku teringat percakapanku dengannya di sms kala kita sempat bertengkar hebat. Saat itu aku hampir saja akan menyerah. Aku terlalu lelah dengan semua perih yang tertoreh dan dia tak pernah tau itu seperti juga dia menganggapku tak tau perih yang ia rasakan kini. Kala itu berkata padanya bahwa aku salut akan ucapannya. Tapi kata salut itu sepertinya harus aku tarik kembali, karena ternyata dia tidak lebih baik dariku.

Apa yang dulu sempat ia ucapkan padaku ternyata hanya sekedar kata. Entah siapa yang salah. Benar atau salah semua sudah terjadi. Entah kapan mereka akan berhenti mengusik kita dan benar-benar menerima kenyataan bahwa apa yang kita miliki adalah nyata.

Aku sedang berusaha bertahan di tengah goncangan yang ada, dalam jeda panjang yang kian menyiksa. Tak ada yang tau apa yang tengah kita perjuangkan. Haruskah perjuangan ini terusik aral yang kembali menghantam?

Aku bahagia hari ini karena telah kutemukan kembali setitik binar di matamu saat melihat aku datang siang itu. Aku telah menjadi lebih kuat sekarang tapi mengapa tiba-tiba dia kembali datang mengusik, di saat sedikit ketenangan hadir diantara kita?

Ada sesak yang mengganjal.

Ada takut yang menggantung.

Ada luka yang siap tertabur perih.

Entah apa yang akan terjadi kemudian...

Mungkin aku egois, tapi tolong, menghilanglah dari kehidupan kami. Jangan biarkan ia terluka lagi, aku tidak mau binar itu hilang. Dia telah memilih jalannya. Jangan biarkan ia kembali terombang ambing bimbangnya. Biarkan kami melangkah.



4.08.2010

di ambang batas pertahananku


Tuhan..
aku mencoba bertahan di tengah jeda yang tercipta
aku mencoba berpegang pada satu janji yang telah terucap
aku berusaha membesarkan hatiku dan menerima semua
setiap cobaan yang datang silih berganti
menderaku seperti tak hentinya..

Tuhan..
di tengah krisis rasa percayaku pada makhlukmu
aku masih ingin miliki satu harap
aku sungguh ingin bisa mempercayai dia
dan Kau tahu aku sangat berusaha..

tapi mengapa Tuhan..
saat aku berusaha menekan semua gundah ini..
selalu ada badai yang kembali menghantamku..
tak cukupkah semua lelah ini, Tuhan??

Masihkah Kau harus menghukumku?
kala aku sudah hampir tak lagi sanggup berjalan
bahkan hanya sekedar tuk berdiri?

Tuhan..
jika kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama
matikan hatiku, Tuhan..
biarkan raga ini berjalan tanpa rasa
karna sungguh tak lagi sanggup aku menahan luka

Tuhan..
sudah cukup semua hukuman ini aku rasa
tak lagi aku sanggup bertahan..
jika satu rasa percaya saja sudah tak bisa aku dapat
jika setiap pasang mata hanya mampu menatapku curiga
aku merasa tak lagi berarti..

Tuhan..
tak lagi sanggup dera ini aku terima..
semua batas pertahananku luluh lantak
ragaku kini hanya seonggok darah dan daging..
tanpa jiwa..

4.04.2010

di atas gedung itu

Di atas gedung itu, satu-satunya tempat yang cukup tenang untuk kita bertukar cerita, di sela-sela waktu kerjamu kamu menyempatkan diri untuk sekedar berbincang denganku. Di atas gedung itu, aku kembali menemukan bahagiaku.

Sore itu aku datang ke tempatmu bekerja, ada hal yang ingin aku utarakan padamu. Semua resah yang hari-hari terakhir ini sering mengganggu aku. Masih tentang dia yang juga masih mengharapkanmu. Aku tak ingin dia terluka lebih dalam ketika dia tahu tentang komitmen yang telah kamu ucapkan. Sebuah janji tentang keabadian kita.

Kamu terlihat sibuk saat itu, tapi tak urung aku lihat binar di kedua matamu saat melihat aku datang. Gundahku sirna seketika kala kulihat kamu tersenyum. Sambil menunggumu menyelesaikan pekerjaanmu, aku memperhatikanmu sambil berbincang dengan salah seorang temanmu. Di sela kesibukan pekerjaanmu, kamu masih juga menyempatkan diri untuk sekedar bercanda denganku. Sampai akhirnya, kamu meminta izin salah satu rekan kerjamu untuk meninggalkan tempat sejenak. Kamu lalu membawaku ke atas gedung itu. Lahan parkir yang cukup luas dan jauh dari hiruk pikuk keramaian pusat perbelanjaan tempatmu bekerja.

Kamu genggam erat jariku saat itu, lalu kamu mulai berujar tentang kerinduanmu akan kebersamaan kita. Betapa kamu telah merasa kehilangan sebuah 'rumah' tempatmu selalu pulang, dan aku merasa semakin tak berdaya. Aku juga sangat ingin kembali bersamamu, menghabiskan waktu bersamamu seperti dulu, menjagamu, mengurus semua kebutuhanmu, menyiapkan pakaianmu dan semua hal yang biasa aku lakukan untukmu.

Lalu kamu akhirnya berujar, "terjawab sudah semua pertanyaan yang selalu kamu lontarkan dulu." Aku tersenyum, "pertanyaan yang mana?" Lalu kamu menjawab, "Apa arti kamu untukku?"

Ya, pertanyaan itu sering sekali aku tanyakan padamu, tapi tak pernah mendapat jawaban. Akhirnya pertanyaan itu terjawab sudah. Aku mendengarnya langsung terucap dari bibirmu. "Part of my life." Sebuah jawaban singkat yang sangat berarti. Aku adalah bagian dari dirimu seperti kamu yang selama ini telah menjadi bagian dari hidupku. Kamu yang telah menjadi separuh nafasku. Aku bahagia, sangat bahagia. Tak pernah sebelumnya aku berharap atau bahkan bermimpi akan mendengar kata-kata itu darimu.

Di atas gedung itu pula, aku kemudian mendengar kata-kata yang menggetarkan hatiku. Kata-kata yang semakin meyakinkanku untuk menghabiskan sisa waktuku bersamamu. Sambil menggenggam erat jemariku, kamu kemudian berkata..

"Tekadku sudah bulat, Kupinang engkau dengan hamdallah."

Aku terkejut kamu mengutip sebuah judul buku untuk melamarku. Sebuah lamaran sederhana tanpa cincin atau apapun. Hanya sebuah ucapan yang tulus dari sebuah niat yang suci, untuk sebuah kebersamaan abadi. Aku tak sanggup berkata apa-apa, lidahku kelu. Aku terlalu bahagia. Rasanya ingin segera jeda ini berakhir.

Tiga bulan. Kita pernah bertahan satu tahun bahkan lebih. Tiga bulan untuk mempersiapkan semuanya.

Seperti mimpi rasanya mendengarkanmu berbicara tentang cincin untuk pernikahan kita nanti. Untuk sebuah pernikahan sederhana seperti yang kita inginkan. Semoga Allah memudahkan niat suci kita. Semoga Allah memberi jalan untuk kebahagiaan kita. Amin.

Di atas gedung itu, aku temukan secercah cahaya harap untuk sebuah mimpi kita. It's you and me with a little left of sanity..

-- di atas gedung itu, 3 April 2010 --


4.03.2010

sebuah komitmen yang terucap

Akhirnya sebuah komitmen itu terlontar. Kamu akan menikahi aku segera setelah semua permasalahan yang sedang kita lalui ini selesai. Seperti mimpi rasanya, kata-kata itu kamu ucapkan di hadapanku. Kata-kata yang dulu rasanya tak mungkin kamu ucapkan, tapi akhirnya ku dengar dengan jelas hari itu.

Aku bahagia, aku terharu. Jika pun ini hanya sebuah mimpi maka aku tak ingin bangun dari mimpi indah ini. Kamu akan menikahi aku karena kamu ingin bersamaku, menghabiskan waktu bersamaku seperti sedia kala, saat semua masih baik-baik saja.

"I just wanna be with you." Kata-kata itu terlontar saat kamu genggam tangan aku di sore itu, sore yang kita lalui bersama dalam keterbatasan waktu dan gerak. Aku bahagia saat itu, tak pernah menyangka kata-kata itu akan terlontar dari seorang kamu. Aku sungguh bahagia.

Ternyata keterbatasan ruang, waktu dan gerak yang kita miliki kini memberi makna yang dalam untuk kebersamaan kita. Kamu semakin menyadari arti kebersamaan kita selama ini. Kamu akhirnya menyadari arti aku untukmu dan aku semakin menyadari arti kamu untukku.

Rindu kita mengikat dalam segala keterbatasan ini, keterbatasan yang tercipta karena angkuhnya ego mereka yang tak bisa mengerti kita. Aku membutuhkanmu dalam hidupku. Kamu telah menjadi separuh nafasku, bagaimana mungkin aku bisa terpisah dari separuh nafasku seperti yang mereka inginkan?

Aku akan bertahan melawan angkuh dan kerasnya ego mereka. Aku akan bertahan di sini, hingga hari itu tiba. Saat tak lagi ada yang bisa pisahkan kita. Saat namaku akan berganti menjadi Dini Yudhystira, seperti janjimu dan komitmen kita kemarin.