2.24.2011

Menemukan Bahagia

Life is never flat, itu yang sering terdengar belakangan ini lewat sebuah iklan di TV. Ya, hidup memang tidak pernah datar, selalu ada gejolak-gejolak yang justru menjadikan hidup lebih hidup dan bermakna.

My life has never been easy but I enjoy it. Dulu ada saat dimana limpahan materi bisa dengan mudah aku dapatkan. Ingin ini tinggal beli, mau itu tinggal ambil, semuanya serba mudah. Tak pernah sekalipun terpikir esok hari bagaimana. Aku hidup di hari ini maka aku nikmati apa yang bisa kunikmati hari ini. Semua melihat aku bahagia, tak kekurangan suatu apapun. Tapi apa mereka pernah bertanya, bahagiakah aku? Tenangkah hidupku?

Dulu aku pernah melabuhkan hatiku pada seseorang yang akan memberikan apa saja yang aku inginkan dan dia bisa memberikannya dengan mudah ( if it's all bout material things ), hanya satu yang tidak bisa dia berikan, ketenangan hati which leads to my happiness. Sebentuk kepercayaan dan komitmen yang pernah dibuat terlanggar begitu saja dengan mudahnya, bukan hanya sekali tetapi berulang kali. Well, I'm only human yang ingin dihargai keberadaannya, bukan dihargai secara materi. Kebahagiaan bukan uang.

Hampir semua yang mengenal aku dulu berkata, aku tidak mungkin hidup dalam kesusahan dan kesederhanaan, karena hidupku selalu tentang materi. Mereka salah. Mereka yang berkata seperti itu adalah mereka yang tidak pernah benar-benar mengenalku. Pernahkah mereka bertanya, mengapa aku melarikan diri dalam materi? Hanya memikirkan hari ini dan entah esok? Pernahkah mereka merenung mengapa semua itu kulakukan? Aku mencari kebahagiaanku sendiri. Aku membahagiakan diriku sendiri. Tapi pernahkah mereka bertanya, benarkah aku bahagia di tengah gelimangan materi tersebut, benar-benar bahagia?

Ya, aku bahagia, kebahagiaan yang semu, kebahagiaan yang hanya sesaat. Aku tidak benar-benar bahagia di tengah kebebasan dan kemudahan yang aku dapat. Apa cinta hanya bisa ditunjukkan dengan materi? Apakah penghargaan seorang wanita hanya bisa diukur dari materi yang bisa didapatkannya? TIDAK!! I was just trying to escape from my life.


Satu keputusan besar akhirnya aku tempuh karena tak lagi ingin hidup dalam kepura-puraan dan kemunafikan. Aku tak lagi ingin berada dalam kebahagiaan yang semu. Aku ingin kebahagiaan utuh yang seutuh-utuhnya. Aku meninggalkan dia yang katanya 'sangat mencintaiku'. Aku berlari menjauh mencari kebahagiaanku sendiri. Dan aku temukan kebahagiaan itu dalam sosok sederhana yang selalu menemukan cara untuk membuatkan aku tertawa.

Aku memilih kebahagiaanku bersama dia. Sosok dewasa dan bertanggung jawab yang justru usianya jauh lebih muda dari aku. Seorang lelaki yang benar-benar menyayangiku dan tau bagaimana menunjukkannya.

Hidupku kini berputar 180 derajat. Aku tak lagi mendapatkan semua kemudahan yang pernah ada. I struggle not only for my life but also my new family. Tapi rasanya seperti terlepas dari beban yang berat. Aku mendapatkan ketenangan bersama orang yang benar-benar menyayangiku, menghargai dan melindungi aku sebagai seorang wanita. Aku menemukan kebahagiaanku dalam kesederhanaan hidup bersamanya. Hari-hariku kini penuh tawa. Kebahagiaanku nyata, tak ada lagi kepura-puraan. Aku menemukan bahwa bukan uang atau harta yang membuat kita bahagia. Untuk apa memiliki banyak uang atau harta tapi merasa sendiri, tak ada yang mengerti? Bukan uang yang bisa memberikan ketenangan tapi seseorang yang selalu ada dalam suka dan duka kita, seseorang yang menjadi 'rumah' untuk kita berteduh.

Aku telah membuktikan pada mereka semua, aku bisa hidup dalam kesederhanaan dan AKU MENEMUKAN BAHAGIA! I've found my home.

Hidup tidak statis, kita harus terus bergerak, mengalir seperti air. Hidup itu mudah apabila kita menjalaninya dengan bahagia. Hidup tidak datar, akan datang badai-badai lain yang mengusik kedamaian, tapi aku sudah tak lagi takut menghadapi badai yang akan menerjang karena aku tau dia ada dan selalu ada. Now we're husband and wife and we're happy.


Kami telah menemukan bahagia dan kebahagiaan itu akan segera tergenapi.