Di atas gedung itu, satu-satunya tempat yang cukup tenang untuk kita bertukar cerita, di sela-sela waktu kerjamu kamu menyempatkan diri untuk sekedar berbincang denganku. Di atas gedung itu, aku kembali menemukan bahagiaku.
Sore itu aku datang ke tempatmu bekerja, ada hal yang ingin aku utarakan padamu. Semua resah yang hari-hari terakhir ini sering mengganggu aku. Masih tentang dia yang juga masih mengharapkanmu. Aku tak ingin dia terluka lebih dalam ketika dia tahu tentang komitmen yang telah kamu ucapkan. Sebuah janji tentang keabadian kita.
Kamu terlihat sibuk saat itu, tapi tak urung aku lihat binar di kedua matamu saat melihat aku datang. Gundahku sirna seketika kala kulihat kamu tersenyum. Sambil menunggumu menyelesaikan pekerjaanmu, aku memperhatikanmu sambil berbincang dengan salah seorang temanmu. Di sela kesibukan pekerjaanmu, kamu masih juga menyempatkan diri untuk sekedar bercanda denganku. Sampai akhirnya, kamu meminta izin salah satu rekan kerjamu untuk meninggalkan tempat sejenak. Kamu lalu membawaku ke atas gedung itu. Lahan parkir yang cukup luas dan jauh dari hiruk pikuk keramaian pusat perbelanjaan tempatmu bekerja.
Kamu genggam erat jariku saat itu, lalu kamu mulai berujar tentang kerinduanmu akan kebersamaan kita. Betapa kamu telah merasa kehilangan sebuah 'rumah' tempatmu selalu pulang, dan aku merasa semakin tak berdaya. Aku juga sangat ingin kembali bersamamu, menghabiskan waktu bersamamu seperti dulu, menjagamu, mengurus semua kebutuhanmu, menyiapkan pakaianmu dan semua hal yang biasa aku lakukan untukmu.
Lalu kamu akhirnya berujar, "terjawab sudah semua pertanyaan yang selalu kamu lontarkan dulu." Aku tersenyum, "pertanyaan yang mana?" Lalu kamu menjawab, "Apa arti kamu untukku?"
Ya, pertanyaan itu sering sekali aku tanyakan padamu, tapi tak pernah mendapat jawaban. Akhirnya pertanyaan itu terjawab sudah. Aku mendengarnya langsung terucap dari bibirmu. "Part of my life." Sebuah jawaban singkat yang sangat berarti. Aku adalah bagian dari dirimu seperti kamu yang selama ini telah menjadi bagian dari hidupku. Kamu yang telah menjadi separuh nafasku. Aku bahagia, sangat bahagia. Tak pernah sebelumnya aku berharap atau bahkan bermimpi akan mendengar kata-kata itu darimu.
Di atas gedung itu pula, aku kemudian mendengar kata-kata yang menggetarkan hatiku. Kata-kata yang semakin meyakinkanku untuk menghabiskan sisa waktuku bersamamu. Sambil menggenggam erat jemariku, kamu kemudian berkata..
"Tekadku sudah bulat, Kupinang engkau dengan hamdallah."
Aku terkejut kamu mengutip sebuah judul buku untuk melamarku. Sebuah lamaran sederhana tanpa cincin atau apapun. Hanya sebuah ucapan yang tulus dari sebuah niat yang suci, untuk sebuah kebersamaan abadi. Aku tak sanggup berkata apa-apa, lidahku kelu. Aku terlalu bahagia. Rasanya ingin segera jeda ini berakhir.
Tiga bulan. Kita pernah bertahan satu tahun bahkan lebih. Tiga bulan untuk mempersiapkan semuanya.
Seperti mimpi rasanya mendengarkanmu berbicara tentang cincin untuk pernikahan kita nanti. Untuk sebuah pernikahan sederhana seperti yang kita inginkan. Semoga Allah memudahkan niat suci kita. Semoga Allah memberi jalan untuk kebahagiaan kita. Amin.
Di atas gedung itu, aku temukan secercah cahaya harap untuk sebuah mimpi kita. It's you and me with a little left of sanity..
-- di atas gedung itu, 3 April 2010 --
Sore itu aku datang ke tempatmu bekerja, ada hal yang ingin aku utarakan padamu. Semua resah yang hari-hari terakhir ini sering mengganggu aku. Masih tentang dia yang juga masih mengharapkanmu. Aku tak ingin dia terluka lebih dalam ketika dia tahu tentang komitmen yang telah kamu ucapkan. Sebuah janji tentang keabadian kita.
Kamu terlihat sibuk saat itu, tapi tak urung aku lihat binar di kedua matamu saat melihat aku datang. Gundahku sirna seketika kala kulihat kamu tersenyum. Sambil menunggumu menyelesaikan pekerjaanmu, aku memperhatikanmu sambil berbincang dengan salah seorang temanmu. Di sela kesibukan pekerjaanmu, kamu masih juga menyempatkan diri untuk sekedar bercanda denganku. Sampai akhirnya, kamu meminta izin salah satu rekan kerjamu untuk meninggalkan tempat sejenak. Kamu lalu membawaku ke atas gedung itu. Lahan parkir yang cukup luas dan jauh dari hiruk pikuk keramaian pusat perbelanjaan tempatmu bekerja.
Kamu genggam erat jariku saat itu, lalu kamu mulai berujar tentang kerinduanmu akan kebersamaan kita. Betapa kamu telah merasa kehilangan sebuah 'rumah' tempatmu selalu pulang, dan aku merasa semakin tak berdaya. Aku juga sangat ingin kembali bersamamu, menghabiskan waktu bersamamu seperti dulu, menjagamu, mengurus semua kebutuhanmu, menyiapkan pakaianmu dan semua hal yang biasa aku lakukan untukmu.
Lalu kamu akhirnya berujar, "terjawab sudah semua pertanyaan yang selalu kamu lontarkan dulu." Aku tersenyum, "pertanyaan yang mana?" Lalu kamu menjawab, "Apa arti kamu untukku?"
Ya, pertanyaan itu sering sekali aku tanyakan padamu, tapi tak pernah mendapat jawaban. Akhirnya pertanyaan itu terjawab sudah. Aku mendengarnya langsung terucap dari bibirmu. "Part of my life." Sebuah jawaban singkat yang sangat berarti. Aku adalah bagian dari dirimu seperti kamu yang selama ini telah menjadi bagian dari hidupku. Kamu yang telah menjadi separuh nafasku. Aku bahagia, sangat bahagia. Tak pernah sebelumnya aku berharap atau bahkan bermimpi akan mendengar kata-kata itu darimu.
Di atas gedung itu pula, aku kemudian mendengar kata-kata yang menggetarkan hatiku. Kata-kata yang semakin meyakinkanku untuk menghabiskan sisa waktuku bersamamu. Sambil menggenggam erat jemariku, kamu kemudian berkata..
"Tekadku sudah bulat, Kupinang engkau dengan hamdallah."
Aku terkejut kamu mengutip sebuah judul buku untuk melamarku. Sebuah lamaran sederhana tanpa cincin atau apapun. Hanya sebuah ucapan yang tulus dari sebuah niat yang suci, untuk sebuah kebersamaan abadi. Aku tak sanggup berkata apa-apa, lidahku kelu. Aku terlalu bahagia. Rasanya ingin segera jeda ini berakhir.
Tiga bulan. Kita pernah bertahan satu tahun bahkan lebih. Tiga bulan untuk mempersiapkan semuanya.
Seperti mimpi rasanya mendengarkanmu berbicara tentang cincin untuk pernikahan kita nanti. Untuk sebuah pernikahan sederhana seperti yang kita inginkan. Semoga Allah memudahkan niat suci kita. Semoga Allah memberi jalan untuk kebahagiaan kita. Amin.
Di atas gedung itu, aku temukan secercah cahaya harap untuk sebuah mimpi kita. It's you and me with a little left of sanity..
-- di atas gedung itu, 3 April 2010 --
2 comments:
dia sudah mengikhlaskan 1 mimpi yang akan kalian raih...dia percaya bahwa trnyata Allah tidak memberi cinta itu untuknya..
dia sudah mampu tersenyum melihat kalian menyiapkan 1 janji suci...bahagiakan lelakimu..
hanya itu yang dia pinta...dia sudah ikhlas.. percayalah..selamat menempuh 1 kehidupan baru untuk kalian...dia turut bahagia... ^_^
terima kasih dan maaf.. hanya itu yang sanggup terucap..
semoga semua ucapmu terangkai tulus dalam hati.. bukan sekedar kata..
Post a Comment