Akhirnya jawabannya aku temukan, mengapa ombak saat itu kehilangan kekuatannya dan buih di laut pun seakan menghilang. Ternyata mereka pun tahu dan mereka pun telah mengenali bahwa aku bukan lah orang yang mereka harapkan ada bersamamu saat itu. Mereka tahu aku bukan orang yang sama yang pernah kau kenalkan pada mereka, yang sebelumnya kau bawa ke pangkuan mereka. Tak pernah ku sangka sebelumnya bahkan alam pun berbicara dengan bahasanya sendiri.
Di tempat itu kita hanya bisa diam menantang laut dalam bisu, berharap laut kan bisa terima aku di sampingmu. Terduduk di sana bersamamu mengharap ombak kan menyapa kita. Namun kau sudah tahu apa yang terjadi. Ombak menolak untuk menyapaku. Buih di laut seakan enggan untuk menyentuh gundah yang tengah bersemayam di hati kita. Mereka menjauh.
Lagi-lagi akhirnya kita merenung, mempertanyakan arti pertemuan kita yang telah menghadirkan begitu banyak romansa cinta dan luka. Pertemuan yang secara tidak sengaja telah memberi warna baru dalam hidup kita. Setiap detik yang telah menggoreskan berjuta kenangan saat kita bersama. Hingga akhirnya kita sama-sama mempertanyakan arti hidup.
Ya, begitu banyak kisah yang terjalin dari setiap perjumpaan kita. Dalam setiap kebersamaan kita, kau selalu dapat hadirkan tawa meski terkadang tangis juga hampiri. Semua menjadi satu kisah tersendiri. Kebahagiaan dan kesedihan. Kecemburuanku saat kau berkisah tentang dia. Kegundahanku saat kau pergi temui dia. Kebimbanganku atas semua perasaan ini. Keraguanku akan cintamu yang akhirnya perlahan pudar saat pendar binar bola matamu menyapaku hangat.
Semua kisah yang telah terlalui nyata indahnya. Lalu mengapa kita masih harus mempertanyakan arti semua ini? Apakah karena semua rasa ini tidak pada tempatnya? Apakah kita sudah terlalu lama terbuai dalam imagi yang kita tahu tak kan pernah terwujud? Lalu mengapa kita harus bertemu dan merangkai kisah jika akhirnya kita sama-sama harus melangkah gontai ke arah yang berlainan? Mengapa kita akhirnya harus pulang dan kembali ke kejamnya kenyataan? Tidak bisakah kita taklukan dunia ini dan memaksa alam untuk menerima kisah kita? Begitu banyak pertanyaan. Tak ada jawaban, mungkin lebih tepatnya tak ingin kita jawab karena kita tahu jawabannya terlalu menyakitkan.
Percuma kita merenung lama di tempat ini. Meski hati meracau, mengutuk dan menantang laut tuk hadirkan kekuatannya, mereka tetap terdiam. Mereka tetap tidak juga mau menerima aku di sisimu. Lalu langit menumpahkan butiran-butiran hujan yang seolah mengerti apa yang tengah kurasakan saat ini. Hujan berusaha basuh semua luka, memberi sedikit ketegaran dalam hati kita.
Setidaknya kau dan aku mengerti, kisah kita nyata. Terangkai indah dalam sebuah cerita yang meski tak sedikitpun mengguratkan jejak, namun kau dan aku tahu semua itu nyata. Aku ada. Engkau ada. Ada kita dalam sebuah kisah. Ada cinta yang telah terangkai meski tak bisa termiliki.
Di tempat itu kita hanya bisa diam menantang laut dalam bisu, berharap laut kan bisa terima aku di sampingmu. Terduduk di sana bersamamu mengharap ombak kan menyapa kita. Namun kau sudah tahu apa yang terjadi. Ombak menolak untuk menyapaku. Buih di laut seakan enggan untuk menyentuh gundah yang tengah bersemayam di hati kita. Mereka menjauh.
Lagi-lagi akhirnya kita merenung, mempertanyakan arti pertemuan kita yang telah menghadirkan begitu banyak romansa cinta dan luka. Pertemuan yang secara tidak sengaja telah memberi warna baru dalam hidup kita. Setiap detik yang telah menggoreskan berjuta kenangan saat kita bersama. Hingga akhirnya kita sama-sama mempertanyakan arti hidup.
Ya, begitu banyak kisah yang terjalin dari setiap perjumpaan kita. Dalam setiap kebersamaan kita, kau selalu dapat hadirkan tawa meski terkadang tangis juga hampiri. Semua menjadi satu kisah tersendiri. Kebahagiaan dan kesedihan. Kecemburuanku saat kau berkisah tentang dia. Kegundahanku saat kau pergi temui dia. Kebimbanganku atas semua perasaan ini. Keraguanku akan cintamu yang akhirnya perlahan pudar saat pendar binar bola matamu menyapaku hangat.
Semua kisah yang telah terlalui nyata indahnya. Lalu mengapa kita masih harus mempertanyakan arti semua ini? Apakah karena semua rasa ini tidak pada tempatnya? Apakah kita sudah terlalu lama terbuai dalam imagi yang kita tahu tak kan pernah terwujud? Lalu mengapa kita harus bertemu dan merangkai kisah jika akhirnya kita sama-sama harus melangkah gontai ke arah yang berlainan? Mengapa kita akhirnya harus pulang dan kembali ke kejamnya kenyataan? Tidak bisakah kita taklukan dunia ini dan memaksa alam untuk menerima kisah kita? Begitu banyak pertanyaan. Tak ada jawaban, mungkin lebih tepatnya tak ingin kita jawab karena kita tahu jawabannya terlalu menyakitkan.
Percuma kita merenung lama di tempat ini. Meski hati meracau, mengutuk dan menantang laut tuk hadirkan kekuatannya, mereka tetap terdiam. Mereka tetap tidak juga mau menerima aku di sisimu. Lalu langit menumpahkan butiran-butiran hujan yang seolah mengerti apa yang tengah kurasakan saat ini. Hujan berusaha basuh semua luka, memberi sedikit ketegaran dalam hati kita.
Setidaknya kau dan aku mengerti, kisah kita nyata. Terangkai indah dalam sebuah cerita yang meski tak sedikitpun mengguratkan jejak, namun kau dan aku tahu semua itu nyata. Aku ada. Engkau ada. Ada kita dalam sebuah kisah. Ada cinta yang telah terangkai meski tak bisa termiliki.

