5.27.2009

Kisah Kita di Antara Ombak dan Hujan

Akhirnya jawabannya aku temukan, mengapa ombak saat itu kehilangan kekuatannya dan buih di laut pun seakan menghilang. Ternyata mereka pun tahu dan mereka pun telah mengenali bahwa aku bukan lah orang yang mereka harapkan ada bersamamu saat itu. Mereka tahu aku bukan orang yang sama yang pernah kau kenalkan pada mereka, yang sebelumnya kau bawa ke pangkuan mereka. Tak pernah ku sangka sebelumnya bahkan alam pun berbicara dengan bahasanya sendiri.

Di tempat itu kita hanya bisa diam menantang laut dalam bisu, berharap laut kan bisa terima aku di sampingmu. Terduduk di sana bersamamu mengharap ombak kan menyapa kita. Namun kau sudah tahu apa yang terjadi. Ombak menolak untuk menyapaku. Buih di laut seakan enggan untuk menyentuh gundah yang tengah bersemayam di hati kita. Mereka menjauh.

Lagi-lagi akhirnya kita merenung, mempertanyakan arti pertemuan kita yang telah menghadirkan begitu banyak romansa cinta dan luka. Pertemuan yang secara tidak sengaja telah memberi warna baru dalam hidup kita. Setiap detik yang telah menggoreskan berjuta kenangan saat kita bersama. Hingga akhirnya kita sama-sama mempertanyakan arti hidup.

Ya, begitu banyak kisah yang terjalin dari setiap perjumpaan kita. Dalam setiap kebersamaan kita, kau selalu dapat hadirkan tawa meski terkadang tangis juga hampiri. Semua menjadi satu kisah tersendiri. Kebahagiaan dan kesedihan. Kecemburuanku saat kau berkisah tentang dia. Kegundahanku saat kau pergi temui dia. Kebimbanganku atas semua perasaan ini. Keraguanku akan cintamu yang akhirnya perlahan pudar saat pendar binar bola matamu menyapaku hangat.

Semua kisah yang telah terlalui nyata indahnya. Lalu mengapa kita masih harus mempertanyakan arti semua ini? Apakah karena semua rasa ini tidak pada tempatnya? Apakah kita sudah terlalu lama terbuai dalam imagi yang kita tahu tak kan pernah terwujud? Lalu mengapa kita harus bertemu dan merangkai kisah jika akhirnya kita sama-sama harus melangkah gontai ke arah yang berlainan? Mengapa kita akhirnya harus pulang dan kembali ke kejamnya kenyataan? Tidak bisakah kita taklukan dunia ini dan memaksa alam untuk menerima kisah kita? Begitu banyak pertanyaan. Tak ada jawaban, mungkin lebih tepatnya tak ingin kita jawab karena kita tahu jawabannya terlalu menyakitkan.

Percuma kita merenung lama di tempat ini. Meski hati meracau, mengutuk dan menantang laut tuk hadirkan kekuatannya, mereka tetap terdiam. Mereka tetap tidak juga mau menerima aku di sisimu. Lalu langit menumpahkan butiran-butiran hujan yang seolah mengerti apa yang tengah kurasakan saat ini. Hujan berusaha basuh semua luka, memberi sedikit ketegaran dalam hati kita.

Setidaknya kau dan aku mengerti, kisah kita nyata. Terangkai indah dalam sebuah cerita yang meski tak sedikitpun mengguratkan jejak, namun kau dan aku tahu semua itu nyata. Aku ada. Engkau ada. Ada kita dalam sebuah kisah. Ada cinta yang telah terangkai meski tak bisa termiliki.

5.26.2009

Lentera

Saat aku bersama mu, aku mendapati sebuah pijar yang mampu terangi gelapnya malam-malamku. Tapi entah mengapa kau bilang mungkin binar yang telah terpijar selama ini hanya sebuah pelita kecil untuk temani temaram malam-malamku. Tidakkah kau sadari.. binarmu telah sinari seluruh ruang hatiku. Ia sudah bukan pelita kecil lagi, namun telah menjadi sebuah lentera yang terangi hari-hariku. Ya, sebuah lentera yang meskipun terkadang pijarnya meredup, namun tetap bisa ku kenali, tetap mampu sinari jiwaku.

Terkadang nyata memang menampar kita terlalu kuat, hingga kita tersungkur dalam alunan sang waktu. Berharap semua bisa diputarbalikkan. Berharap tangan-tangan kejam sang waktu tak kan merenggutmu dari aku, hingga pijar itu tak kan pernah meredup agar dapat ku lihat jelas sinar indahnya.

Berkali kita mencoba untuk kesampingkan kenyataan. Hal yang sangat tidak mudah dilakukan ya? Betapa pun kita menutup mata, telinga, bahkan hati dan pikiran kita, kenyataan akan tetap mengikuti. Memaksa kita untuk menerima keadaan. Memaksaku untuk melihat bahwa bukan aku tujuan terakhirmu. Aku hanya sebuah persimpangan kecil di hatimu yang kau akui telah merebut sebagian ruang hatimu. Entah berapa persentasenya. Sebagian besar kah atau hanya sebagian kecil ruang kosong yang tak sengaja akhirnya terisi aku? Entahlah. Aku bahkan tak ingin tahu jawabannya. Yang cukup aku ketahui adalah kau telah menjadi lentera yang sinari langkahku meski aku tak pernah bisa menjadi lentera untukmu.

Kau tahu? Aku sering kali berharap suatu saat aku kan bisa menjadi lenteramu yang kan selalu naungimu dengan sinarku. Meski redup namun tetap kan hangatkanmu. Tak perlu milikimu, cukup hanya sebagai penerang langkahmu. Memberimu cahaya yang kan menuntunmu pada dia yang di sana. Dia yang selama ini selalu kau rindukan. Dia yang menjadi tujuan akhir hidupmu.

Aku mengerti selama ini langkahmu selalu tertuju padanya walaupun kau telah berusaha sekuatmu untuk tetap menjadi lentera bagiku. Dan kau sungguh telah menjadi lentera yang sempurna untukku. Lentera yang senantiasa memberi binar bahagia meski terkadang meredup. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Jangan khawatir. Senyumku akan tetap terkembang. Meski pijarmu meredup, hangatnya akan tetap dapat kurasakan. Dan ingatlah.. aku akan berusaha sekuatku untuk dapat menjadi lenteramu tanpa harapkan apapun. Dan meski satu saat nanti kau kan menjauh dan sinarmu kan semakin meredup, seredup apapun pasti kau kan kukenali karena kau lentera hatiku.

5.20.2009

Every Little Thing She Does Is Magic

Though I've tried before to tell her
Of the feelings I have for her in my heart
Every time that I come near her
I just lose my nerve
As I've done from the start

Every little thing she does is magic
Everything she do just turns me on
Even though my life before was tragic
Now I know my love for her goes on

Do I have to tell the story
Of a thousand rainy days since we first met
It's a big enough umbrella
But it's always me that ends up getting wet

Every little thing she does is magic
Everything she do just turns me on
Even though my life before was tragic
Now I know my love for her goes on

I resolve to call her up a thousand times a day
And ask her if she'll marry me in some old fashioned way
But my silent fears have gripped me
Long before I reach the phone
Long before my tongue has tripped me
Must I always be alone?

Every little thing she does is magic
Everything she do just turns me on
Even though my life before was tragic
Now I know my love for her goes on

di batas dua dunia

aku kembali berjalan di batas dua dunia
antara khayal dan nyata yang terangkai
meniti langkah setapak demi setapak
menikmati setiap kebersamaan yang terjalin
namun kembali kandas dalam nyata
kau tlah melangkah terlebih dulu
sambangi nyata hunian indahmu
tinggalkan aku yang kian gundah
terpaku sendiri tanpa kata
berjalan di batas dua dunia
berharap lagi kan temukan kau di sana
tuk yakinkan ku kau tetap ada
dan kau tau aku slalu ada
meski raga terpaut jarak
walau tak kuasai seluruh hatimu
dan harus sendiri berjalan di batas dua dunia
aku kan tetap di sini dengan mimpiku
hanya dengan mimpi ini aku sanggup
tuk berjalan di batas dua dunia..

tak berbahasa

bahasa ku kini hanya sunyi tanpa kata
satu-satunya pengertianku hanya hening
kata yang ada kandas sebelum terucap
diam adalah cara yang ku tau saat ini
namun tetap tersenyum dalam diamku
senyum yang tak pernah akan ada yang tau
apa lah arti di balik semua itu..
setiap perih yang tersembunyi
semua tertelan di balik kata
di balik kata yang terlanjur hilang
tak pernah sedikitpun sempat terucap
sungguhpun ingin aku teriak
yang terdengar hanya lirih
lalu kemudian sepi kembali
bahasaku tinggal keheningan..

di antara ombak dan hujan

Entah kenapa, malam ini deburan suara ombak yang selama ini selalu kurindukan malah menjadi suara yang paling aku takuti. Ombak yang berdebur keras di luar sana seolah ingin merenggutmu dari aku, seperti ingin memisahkan dan memberi jarak antara kita. Sedikitpun aku tak bisa memejamkan mataku. Aku hanya bisa menatapmu dalam tidurmu. Berharap ombak tak akan mengambilmu dari sisiku malam ini. Karena hanya malam ini yang kita miliki.

Baru kali ini aku mengharap pagi cepat datang. Malam sungguh terasa sangat menyiksa dan kau tetap terlelap diantara deburan ombak yang menakutiku. Tidak kah kau tahu? Bahkan alam tidak merestui kehadiran kita di sini.

Saat akhirnya sang mentari menari hangat di atas hamparan air yang luas, di batas dua dunia, rasa takut kehilanganmu semakin menjadi. Ternyata mentari sama saja tidak sanggup membawa setitik cahaya di hatiku. Aku kira mentari akan menghantar setitik harap baru dalam kisah kita, harapku kandas.

Aku kemudian berlari menantang ombak, namun entah mengapa ombak seperti kehilangan kekuatannya. "Ini aku datang!! Bukankah kau berusaha hampiri kami tadi malam?? Aku sudah di sini sekarang... Rengkuh aku saja. Telan aku dengan keangkuhanmu!!" Teriakanku hilang ditelan sepi. Buih di laut perlahan sirna, ombak tak tampakkan lagi kekuatannya.

Akhirnya aku hanya mampu terduduk dalam diam di sampingmu. Meresapi detik-detik kebersamaanku denganmu, yang entah kapan bisa ku dapatkan lagi. Kita sama-sama tercenung, bahkan di pantai ini kita tidak diterima. Ombak yang tiba-tiba menjadi sangat tenang, dan matahari yang tiba-tiba disembunyikan sang awan. Tak ada sunset. Tak ada keindahan sebagai sedikit penghibur.

Cukup lama kita terduduk dalam diam hingga akhirnya disadarkan oleh tetesan-tetesan air yang selama ini selalu mengiringi langkah kita, dimanapun dan kapanpun. HUJAN...

Hujan lah kawan sejati kita. Setiap saat selalu temani kita. Hujan pula yang akhirnya membuat kita tersenyum hari ini. Saat kata tak lagi dapat terucap, kala lelah dan takut datang mendera, hanya sang hujan yang mampu damaikan hati kita.

Perlahan tapi pasti, ku langkahkan kaki ini mengiringi langkahnya dalam hujan. Berjalan tuk hadapi semua rasa takut yang sudah terbungkus luka. Kembali pulang tuk lalui semua waktu tanpamu. Kembali ke dalam pangkuan keangkuhan dunia. Kembali mencintaimu dalam jarak.

5.06.2009

sebuah keinginan

Mengulang lagi pertanyaanmu tentang apa yang kuinginkan. Kamu tahu... yang aku inginkan adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi dan tak akan juga bisa kamu kabulkan. Memutar waktu ke masa lalu, mengulang semua dari awal. Bisakah kamu lakukan itu untukku? Bisakah kamu berikan waktu padaku?

Jika kamu bertanya mengapa, jawabannya sederhana, karena aku ingin bersamamu di situasi yang berbeda dengan saat ini. Aku ingin mencintaimu dengan bebas sebebas burung yang terbang kemana ia mau, sebebas angin bertiup kemana ia ingin bertiup. Aku ingin menyayangimu dengan sempurna, tanpa harus sembunyi. Aku ingin merindukanmu tanpa harus merasa bersalah. Dan aku ingin kau menjadi tempat terakhir ku sandarkan lelahku tanpa harus berbagi.

Kemudian kamu kembali bertanya, "Bagaimana jika aku bisa memutar waktu dan mengembalikannya ke detik pertama saat kita bertemu, apa kamu yakin semua akan berbeda?"

Detik berlalu beberapa saat sebelum akhirnya bisa kutemukan lagi suaraku. "Aku akan memastikan semuanya akan berbeda. Aku akan memastikan kita akan bertemu lalu saling mengenal dan perasaan yang kita miliki saat ini pun akan tetap ada."

Kamu hanya tersenyum mendengar jawabanku. Entah apa yang ada di pikiranmu saat itu. Hening sejenak. Lalu terdengar helaan nafasmu, pelan, namun tetap dapat kudengar sebelum akhirnya kau berkata, "Jika dapat ku putar waktu, tak perlu kamu minta pun sudah akan ku lakukan. Tapi kamu benar, aku tak bisa memberimu waktu. Aku tak sanggup memutar waktu. Yang kita miliki hanya saat ini. Dan kamu tahu apa yang kuinginkan saat ini?"

Kembali hening, sepertinya kamu menunggu jawabanku meskipun kamu tahu kamu sebenarnya tidak memerlukan jawaban itu. Aku hanya terpekur memandang ujung jari-jari kakiku. Masih juga hening. Bisa kurasakan tatapan matamu menusuk pertahanan air mataku. Aku menggeleng lemah.

"Yang sungguh kuinginkan saat ini hanya menghabiskan malam bersamamu. Bukan untuk melepas nafsu. Hanya untuk memelukmu. Membiarkanmu rebah di dadaku tuk rasakan degub jantungku. Dan menghabiskan malam dengan saling bertukar cerita. Bertukar cerita tentang apa pun itu hingga kau lelah dan tertidur. Dan aku sungguh ingin melihatmu tertidur dengan damai. Dengan senyum di wajahmu."

Hening lagi beberapa saat. Hanya sedikit isak tertahan yang terdengar. Aku menangis mendengar inginmu. Aku menangis karena aku bahagia kamu ingin begitu. Aku menangis karena aku menyadari keinginan kita sama untuk saat ini. Aku menangis karena tak mudah wujudkan itu. Kita hanya bisa begini. Seperti saat ini. Bersama dalam jarak. Sembunyi dari waktu.

Lalu tiba-tiba kamu merengkuh bahuku dan aku mendengarmu berkata, "Jangan menangis... tak ada yang perlu ditangisi. Aku hanya ingin kamu tahu aku ada. Aku ingin kamu tahu aku tidak berpura-pura. Aku miliki sayang ini. Aku juga punya cinta ini. Dan itu semua nyata untukmu dengan segala keterbatasan yang kita miliki. Aku hanya ingin meyakinkanmu."

Aku balikkan badanku dan menghambur ke pelukannya. Aku menangis bahagia. Ini adalah pertama kalinya kamu mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang selama ini selalu ku nantikan. Kata-kata yang selama ini hanya kamu ucapkan dengan ringan padanya, bukan untukku.

Aku memelukmu erat. Sungguh tak ingin kulepaskan. Kamu mengelus punggungku pelan. Kehangatan perlahan menjalar merasuki rongga-rongga hatiku. Aku sudah lebih tenang sekarang.

"Kamu tahu, aku senang akhirnya kamu ucapkan kata itu. Itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini. Meski nanti langkahku di sampingmu tak berjejak, aku akan selalu ada untukmu. Meski waktu yang kita miliki hanya saat ini, aku tidak akan menyesali." Akhirnya kutemukan juga suaraku.

Perlahan kau melepas pelukanmu dan mengangkat wajahku untuk kemudian menatap lembut mataku. " Aku bersyukur atas waktu yang kita lewati bersama. Tak ada sedetikpun yang aku sesali."

Waktu seperti terhenti saat itu. Atau mungkin lebih tepatnya inginku hentikan. Biarlah semuanya berhenti di sini. Menyisakan sebuah tanya kapan keinginan itu bisa terwujud. Satu keinginan sederhana untuk bisa bersama. Untuk bisa merasakan satu kebersamaan meski hanya semalam saja. Dan menemukan satu jawaban atas pertanyaanku yang lain. KAMU MENCINTAIKU. Saat ini itu sudah lebih dari cukup. Dan aku berharap waktu kan berhenti di sini saja.

5.05.2009

Sekeping cerita dari RECTOVERSO milik DEE

CURHAT BUAT SAHABAT

Gaun hitammu menyambar kaki meja, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sengaja berdandan. membuatku agak malu karena muncul berbalut jaket jins, celana khaki, dan badan sedikit demam.

"Kamu tidak tahu betapa pentingnya malam ini," katamu tertawa tersipu, seakan minta dimaklumi. Pastinya kamu yang merasa tampil berlebihan, karena katamu tadi di telepon, kita hanya akan makan malam sambil mendengarkanmu curhat.

Sebotol Muscat yang terbalur dalam kepingan es diantarkan ke meja. Dudukku langsung tegak. Jangan-jangan malam ini memang betulan penting.

Anggur itu berusia enam tahun. Gaun itu cuma keluar sekali dalam dua tahun. Restoran ini terakhir kamu pilih saat ulang tahun hari jadi jatuh cintamu ke-1, empat tahun yang lalu. "Ada yang perlu dirayakan? Selain kamu baru sembuh sakit dan aku yang gantian tidak enak badan?" tanyaku, berusaha santai.

"Malam ini aku lahir baru."

"Kamu... bertobat?"

"Bisa jadi itu istilahnya!" tawamu menggelak-gelak lepas, lalu kamu mengatur nafas, "Aku... selesai."

Mataku menyipit. Menunggu penjelasan.

"Selesai! Semua sudah selesai. Lima tahun sudah cukup. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap. Cheers!" Kamu dentingkan gelasmu ke gelasku.

Bulu kudukku meremang tersapu hawa demam yang tiba-tiba melonjak sesaat dari dalam tubuh. Atau pendingin ruangan yang terlampau sejuk. Piano mengalun terlalu indah di kuping. Kamu terlalu cantik saat menyerukan ikrar kebebasanmu. Aku merinding lagi dan selapis keringat dingin menyembul di tepi kening.

"Kenapa?" tanyaku, dan kamu pasti sudah siap untuk itu. Untuk sepotong kata tanya itulah kamu berdandan, mengenakan baju terbaikmu, dan memilih tempat ini.

Tolong jangan tersinggung jika kubilang aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pertama akan ada jeda kosong sekurang-kurangnya tiga menit, di mana aku akan melipat tangan di dada sambil memandangimu sabar, dan kamu akan memandang kosong ke satu titik, seolah di titik itulah halte tempat berbagai kenangan tentangnya berkumpul dan siap diangkut ke seluruh tubuhmu. Mulutmu lalu berkata-kata tentangnya, matamu dipenuhi olehnya, dan tak lama lagi kamu akan terlapisi saput yang tak bisa ku tembus. Hanya kamu sendirian di situ. Dan kamu tak pernah tahu itu.

Ceritamu kerap berganti selama lima tahun terakhir. Semenjak kau resmi tergila-gila padanya. Kadang kamu bahagia, kadang kamu biasa-biasa, kadang kamu nelangsa. Namun saput itu selalu ada. Kadang membuatku ingin gila.

"Aku menyadari sesuatu waktu aku skit kemarin." Kamu mulai bertutur setelah sembilan puluh detik menatap piano. "Satu malam aku sempat terlalu lemas untuk bangun, padahal aku cuma ingin ambil minum. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kumintai tolong... "

Jaketku harus kurapatkan. Sensasi meriang itu datang lagi.

"Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku.. dan segelas air putih."

Kepalamu menunduk, matamu terkatup, kamu sedang menahan tangis. Malam panjang kita resmi dimulai.

"Tapi... aku janji... tangisan ini buat yang terakhir kali... "katamu tersendat, antara tawa dan isak. Berusaha tampil tegar.

Dan ini lah saatnya aku menepuk halus punggung tanganmu. Dua-tiga kali tepuk. Dan tibalah saatnya kamu tersengguk-sengguk. Tak terhitung banyaknya. Lalu bedak dan lipstikmu meluntur tergosok tisu.

"Orang... yang begitu tahu aku sakit... mau jam berapapun... langsung datang... " Susah payah kamu bicara.

Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku berdering pukul setengah dua belas malam. Aki mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayangnya adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibawakan obat flu karena stok di rumahnya habis. Ia lalu minta dibawakan segelas air, yang hangat. Aku menungguinya sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memjamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi, begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku daripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

Napasmu mulai terdengar teratur. Air mata masih mengalir satu-satu, tapi bahumu tak lagi naik turun. Kamu mantapku lugu, "Keinginan itu... tidak ketinggian, kan?"

Lama baru aku bisa menggeleng. Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.

"Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?" Demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasaanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.

"Aku akan diam," jawabmu dengan nada mantap yang membuat sengguk dan isak barusan seolah tak pernah terjadi.

"Diam?"

"Ya. Diam! Diam di tempat. Tidak ada lagi usaha macam-maacam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yakin di luar sana, pasti ada orang yang mautulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit... "

Kamu selalu tahu kebutuhanmu dari waktu ke waktu. Yang tidak kamu tahu adalah kamu sendirian dalam saput itu.

Gelas-gelas kita kembali diisi. Lagi kamu mengajakku mengadu keduanya, dan kali ini dengan semringah kamu berkata, "Demi penantian yang baru! Yang tidak muluk-muluk! Cheers!"

Sesuatu di ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku. Kurapatkan jaketku hingga tak bisa ditarik ke man-mana lagi.

"Kamu sakit?" Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Kulihat kedua alismu spontan bertemu, menunjukkan rasa heran yang sungguhan.

"Ya."

"Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?"

"Ya."

Sebotol anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.

============================================================================

kamu tau? kamu sudah memberiku lebih dari hanya sekedar segelas air putih. Kamu memberiku banyak hal. Kamu beri aku kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan. Kamu beri aku warna. Kamu beri aku semangat.
dan kamu tau? aku melihat kamu didepan mataku tanpa perlu aku menatap.
Terima kasih untuk kisah dan semua yang telah kau beri..


di balik kerinduan


Baru pagi ini, sms dia semalam, terkirim dan ia baca. Ada lima sms sama yang terkirim. Sinyal handphone memang kadang tidak bersahabat disaat sinyal hati sedang kuat. Tapi tak mengapa, dibalik semua keterlambatan terkirimnya sms itu tetap ada sesuatu yang indah. Meski terlambat, namun sms dia semalam yang baru saja ia baca di pagi ini mampu cerahkan hari nya. Membuat senyum semakin terkembang di wajahnya pagi ini.

Hanya sebuah pesan singkat sederhana. Sebuah puisi singkat tentang kerinduannya.
"Diamlah dalam dekapanku biar dapat kau rasakan
degup jantung ku berkata merindukanmu..
Baringkan sejenak lelahmu dalam hangat pelukanku
karena sungguh ku ingin kau hadir malam ini"

Satu rasa indah seketika membuncah dalam hatinya. Wajahnya seakan tak dapat berhenti tersenyum. Kini ia sungguh tau dia benar rindukannya. Tak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Tak ada lagi yang harus dikhawatirkan. Hati mereka telah saling terpaut. Mereka sama-sama merindu.

Satu rindu indah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahkan ini adalah rindu terindah yang pernah ia rasakan. Rindu yang tak hanya ia rasakan dalam hati tapi ia dengar juga dengan daun telinganya sendiri, lewat sebuah kata tegas "kangen". Kata ajaib yang bisa membuat dunianya berubah menjadi lebih berwarna di tengah buram hari-harinya..

Kamu tahu? Ada saat di kala kita merasa butuh untuk mendengar langsung perkataan tentang apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Bukan melalui perumpaan yang rumit atau pernyataan-pernyataan retorikal. Terkadang tidak juga cukup dengan hanya merasakan, karena kadang ada rasa takut jika apa yang dirasakan hanyalah bayang. Yang dibutuhkan hanya sebuah kata sederhana yang jika kau dengar akan sanggup mencipta beribu sayap emas tuk membantumu terbang ke surga dan bertemu sejuta bidadari. Bidadari itu bernama kebahagiaan.

Dan para bidadari itu kini tengah mengelilinginya, karena pada akhirnya ia bukan hanya bisa merasakan lalu menebak-nebak, tapi juga mendengar langsung kata-kata sederhana nan indah itu. Sederhana, sangat sederhana, namun memiliki makna yang sangat dalam baginya. Dan yang terpenting, ia tak lagi perlu bergelut dengan perasaan cemasnya. Kecemasan jika apa yang ia rasakan selama ini tidaklah nyata, hanya sekedar imagi dan harapnya.

Hatinya bernyanyi, mendendangkan beribu lagu rindu. Dan semua ia nyanyikan untuk dia. Dia telah merasuki seluruh pori-porinya. Dia ada dalam setiap rongga kosong dalam organ-organ tubuhnya. Dia menjelma menjadi nafas yang ia hembuskan dan udara yang ia hirup. Dia ada bersamanya. Ia ada bersamanya. Meski raga terpaut jarak dan waktu tampak tak bersahabat karena terlambat pertemukan mereka, jiwa mereka telah bersama. Dipersatukan oleh kerinduan. Ditautkan oleh kasih dan sayang. Dipadukan dalam satu jalinan cinta tulus. Setidaknya itulah yang ia rasakan saat ini. Dia adalah separuh jiwanya.

Lalu di antara dendang lagu yang ia senandungkan, jari jemarinya menari ringan di atas keypad handphonenya. Ia mengirim sms balasan. Biarlah terlambat. Setidaknya ia juga bisa ungkapkan kerinduannya, lewat sebuah puisi balasan singkat.
"Jika ada dalam rengkuhan pelukmu
sedikitpun aku tak kan berontak...
karena sungguh itu yang kuinginkan saat ini
merasakan detak jantungmu berdetak
menembus pertahanan terakhir hatiku
sungguh aku sangat merindukanmu juga
hingga dapat kurasa hadirmu di sini... "

Pesan singkat itu pun terkirim. Dan senyumnya semakin terkembang. Menanti hari beranjak sore, tuk kemudian melihatnya lagi. Bertemu dengannya dan melepas rindu. Untuk kemudian merindu lagi.

5.04.2009

akhirnya aku tersenyum hari ini


akhirnya senyum terkembang juga..
amarah tlah reda dan gundah tlah sirna
ternyata semua karena rindu
satu rindu yang terlalu membuncah
dan terobati dengan sedikit kata rindu
aku tersenyum hari ini..
terima kasih cinta..