7.05.2010

satu kisah yang terlahir di kebersamaan kita..

aku, batas pertahananku dan luka yang hadir..

Monday, March 8, 2010 at 9:09am

Kamu selalu begitu. Setiap kali aku membangun tembok pertahanan yang tinggi menjulang, setinggi apa pun kamu selalu dengan mudah merobohkannya. Dengan diammu ataupun dengan kata-kata yang sengaja kamu rangkai dalam keindahannya, bahkan terkadang cukup hanya dengan pelukmu.

Berulangkali, selalu begitu. kamu selalu mendapatkan cara untuk menemukanku di balik tembok-tembok itu. Aku selalu bisa mendengar suaramu yang memanggilku untuk kembali, betapapun aku berusaha untuk menulikan telinga ini.

Kamu selalu datang dengan sebuah asa dan mimpi yang sama. Mimpi yang perlahan terajut indah dalam anganku. Mimpi akan satu kebersamaan. Kamu dengan semua kasih sayangmu, semua perhatian kecilmu. Kamu yang selalu membawa cahaya yang terangi malam-malamku. Kamu yang selalu datang dengan segudang tawa. Kamu dan semua janji-janjimu untuk wujudkan satu mimpi kita.

Harapku berulangkali tertampar nyata. Asaku acapkali terkubur luka. Aku menyerah beberapakali. Sayapku terluka dan terluka kembali sebelum ia benar-benar pulih, tapi kamu selalu ada memberiku kekuatan untuk kemudian kembali menghancurkannya. Melukainya lagi dan lagi dan lagi.

Kamu selalu menemukan cara untuk melukaiku dan kemudian menyembuhkannya lagi. kamu adalah satu-satunya orang yang bisa mengubah tangisku menjadi tawa. Kamu yang bisa menghentikan tangisanku, tapi kamu juga yang sering membuat aku menangis.

Seperti kali ini. Aku sudah menyerah. Aku telah lelah. Kamu tidak pernah bisa memberi ketegasan. Si Libra yang tidak pernah bisa tegas. Si Libra yang berusaha untuk tidak menyakiti siapa pun tetapi secara tidak sadar telah melukai banyak orang dengan ketidaktegasannya, bahkan melukai dirinya sendiri. Aku menyerah karena tidak ingin membuatmu terluka. Aku mencoba menarik diri, tapi jaring itu terlalu kuat mengikat. Kamu tetap berada di sampingku setiap hari. Temani hari-hariku dan meyakinku akan janji yang pernah kamu ucapkan dulu.

Aku memasang tembok pertahananku, tapi kembali kamu hancurkan. Kamu kembali berujar tentang harapan, tentang satu asa kita, tentang satu paket kebahagiaan utuh -- kamu, aku dan keenan. asa yang sempat aku kubur dalam-dalam kembali mengembara dengan bebas. Mimpi itu hadir lagi seiring keberadaanmu di sampingku. Asa itu terbang liar di langit mimpi-mimpiku. Namun kembali kandas tertampar nyata.

Tak ada lagi tembok yang bisa aku bangun. Kekuatanku habis sudah. Hanya tinggal puing-puing asa yang berserakan. Sayap-sayapku kembali terluka dan mungkin tak kan lagi terobati. Entah apa kali ini kamu masih sanggup menarikku kembali., entah apa aku masih bisa mendengar suaramu memanggilku untuk kembali, atau mungkin kamu sudah tidak lagi akan memanggilku.

Semua kembali ambigu. Tak pernah ada yang pasti..

No comments: